Halaman Utama arrow Berita MGB arrow Orasi Guru Besar Emeritus Prof. M.T. Zen - 24 Oktober 2008

Halaman Utama
Anggota
Struktur Organisasi ITB
Sekilas MGB
Pencarian
Kontak Kami
MWA
Senat Akademik
ITB
Site Credits

Orasi Guru Besar Emeritus Prof. M.T. Zen - 24 Oktober 2008 Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Disampaikan pada Sidang Terbuka Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung, di Balai Pertemuan Ilmiah ITB, 24 Oktober 2008 New Page 1

MEMBANGUN MASYARAKAT DENGAN SISTEM PEREKONOMIAN BERBASISKAN PENGETAHUAN

(ITB in Search of a Techno_Economic Model)1)

 

M. T. Zen2)

 

 

PROLOG

 

Kebangkitan Asia

Dimasa kecil, penulis sering diceritakan oleh ayah tentang kebangkitan Asia, dan dia mulai menceritakan tentang Dairen dan Port Arthur, koloni Russia yang direbut oleh Jepang ditahun 1905. Tetapi Jepang sebelumnya sudah berhasil menduduki Manchuria dan pantai Timur China. Kesemuanya itu dimungkinkan oleh gerakan modernisasi Jepang yang lebih dikenal dengan nama Restorasi Meiji. Sesudah itu dunia dikejutkan lagi oleh penyerangan Jepang pada Pearl Harbour di Hawaii ditahun 1942, sekalipun akhirnya Jepang dapat dikalahkan oleh tentara Sekutu, Jepang bangkit kembali menjadi suatu kekuatan ekonomi dunia di tahun enampuluhan diikuti lagi oleh Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan Hongkong yang pada masa itu masih menjadi Crown Colony dari lnggris.

 

Akan tetapi kebangkitan paling spektakuler didunia ini adalah kebangkitan China dari sebuah negara komunis yang sangat tertutup dan authoritarian menjadi negara yang menyebut dirinya Negara Komunis dengan perekonomian pasar terbuka (Open Market Economy), sekalipun secara resmi masih merupakan negara komunis yang tetap memiliki sifat authoritarian yang keras.

 

Salah seorang pemimpin bangsa yang besar dan sangat luar biasa diabad ke 20 yang lalu adalah Deng Xiau Ping. Kenapa disebut pemimpin besar yang luar biasa?

Karena tiga hal:

Pertama, ia adalah pengikut Mao Tze Dong yang baik dan bersama-sama Mao Tze Dong menggerakkan Long March yang bersejarah itu. Mao Tze Dong meninggal dunia di tahun 1967, kemudian Deng mengambil alih kekuasaan. Dalam menjalani perjuangan perebutan kekuasaan didalam partainya sendiri, Deng benar-benar keluar sebagai pemenang dan penguasa China di umur 74 tahun.

Kedua, keberaniannya dan kemampuannya berbalik arah dari sistem komunistik yang sangat orthodox menjadikan China negara modern dengan sistem terbuka yang sangat berhasil.

Ketiga ialah bahwa semua perubahan besar-besaran itu berjalan tanpa Revolusi Fisik yang memakan korban terlalu besar jika dibandingkan dengan apa yang dicapai.

 

Dibulan November tahun 1978 Deng mengunjungi Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura. Di kota itu dia tinggal selama 3 hari penuh dan mengunjungi semua pusat-pusat perkembangan dan industri sebanyak-banyaknya. Ditahun 1980 saja dia bertemu dengan PM Lee Kuan Yew sebanyak 3 kali. Dia begitu terpesona dengan Singapura sehingga dia mengirimkan sebanyak 400 buah delegasi ke Singapura yang terdiri dari pejabat-pejabat negara, para wali kota, dan para petinggi partai. Dia berkesimpulan bahwa kota-kota atau negara non-komunis tidak sejelek sebagaimana selama ini dia diajarkan, dan Amerika bukanlah musuh utamanya melainkan keterbelakangan China itu sendiri. Sejak itulah Deng memikirkan rencana reformasi dan perombakan besar-besaran secara mendasar. Tetapi Deng sangat berhati-hati. Dia mulai secara sangat sederhana di daerah pedesaan dulu. Sesudah reformasi pertanian berjalan dengan baik, baru dia mulai menangani reformasi industri. Apapun langkahnya dalam reformasi tersebut dia lakukan dengan sangat hati hati.

 

Secara nyata reformasi sebenarnya dimulai dimusim dingin tahun 1978 disebuah desa bernama Xiaogiang. Pada suatu malam musim dingin tahun 1978 para petani Xiaogiang itu bertekad melakukan perubahan. Berkat kepemimpinan Deng yang berani, maka reformasi itu dimulai dengan cara membebaskan para petani dari “system collective” yang selama ini dianut oleh Mao. Sebagaimana diketahui system collective itu mengakibatkan jutaan petani mati kelaparan, dan Deng sebaliknya membagi-bagikan lahan yang dikuasai system collective itu. Perlu diketahui bahwa diantara tahun 1959-1961 tidak kurang dari 30 juta petani China tewas kelaparan (Vaclau Smil, 2004) (Bahkan Mao berpendapat (Jung Chang dan Haliday, 2006) bahwa jika perlu separuh rakyat China dapat dikorbankan). Ia membebaskan para petani menanam dilahannya dengan produk apa saja yang dikehendaki. Panen pertama berhasil dengan sangat baik. Langkah pembebasan para petani itu menyebar keseluruh China.

 

Slogan reformasi tersebut adalah: “Menyeberangi sungai sambil meraba bebatuan didasar sungai.” Ada satu hal yang sangat menakjubkan dari perkembangan China menjadi sebuah negara dengan ekonomi pasar terbuka. Satu kali mulai berjalan, China seakan-akan “all out“ dalam segala hal yang berkaitan dengan penanaman modal asing. Sebagai perbandingan dalam hal ini; India juga mulai bergerak dan membuka diri tetapi sikap “all out“ tadi tidak terlihat.

 

25 tahun sejak China membuka diri terhadap dunia luar kita lihat bahwa di India para investor menanamkan modalnya sebanyak US$7.5 milyar, akan tetapi di China para investor itu menanamkan modalnya sebanyak US$7.5 milyar dalam setiap 3 minggu sekali. Disitulah terlihat perbandingannya antara India dan China, sehingga dalam kurang lebih 3 dasawarsa China sudah muncul sebagai negara adidaya dalam segala bidang, terutama dalam bidang ekonomi dan indusri.

 

Ditahun 2008 GDP China sudah mencapai US$3.94 Trilliun dengan GDP per kapita sebesar US$2.960 dan dengan jumlah penduduk mencapai 1.3 milyar jiwa lebih.

 

Sewaktu Olimpiade Beijing ditutup secara resmi pada tanggal 20 Agustus 2008, China menduduki tempat sebagai juara umum dengan jumlah medali emas sebanyak 49 buah, diikuti oleh Amerika Serikat sebagai runner up dengan jumlah medali emas sebanyak 34 buah, dan Russia sebagai juara ketiga dengan jumlah medali emas sebanyak 21 buah. Bagaimana orang dapat menjelaskan fenomena ini. Memang benar China seakan-akan mempertaruhkan segala-galanya untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa China sudah bangkit menjadi negara adidaya sesungguhnya, termasuk dalam bidang olahraga dengan mengalahkan Amerika Serikat secara mencolok dan dalam bidang memajukan kelestarian lingkungan hidup.

 

Kebangkitan China itu adalah kebangkitan Asia dan merupakan satu keajaiban besar. Lihat Jepang, India, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia dan Thailand serta Vietnam, semua bangkit dan berkembang dengan pesat sekali. Dalam membandingkan negara-negara itu dengan Indonesia kita terpaksa bertanya dimana Indonesia? Ada apa dengan Indonesia? Mempelajari China, India, Korea Selatan, Singapura dan Taiwan satu hal yang dapat disimpulkan, yaitu bagi negara berkembang yang benar-benar hendak membangun diperlukan kepemimpinan bersifat Visioner dengan Good Governance. Perhatikan negara-kota Singapura. Itu suatu contoh bagaimana sebuah negara kecil dapat menjadi besar.

 

Keterpurukan yang Menuju ke Negara Gagal

Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945; lebih dulu dari India, Pakistan, Malaysia dan Singapura. Tetapi negara-negara tersebut semuanya bakal menjadi macan betulan, bukan macan kertas. Yang terpenting adalah bahwa pada saat ini Indonesia berada dalam keterpurukan yang sangat sempurna. Lihatlah beberapa cuplikan berikut ini:

 

Memperhatikan secara seksama semua kejadian di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini terlihat bahwa:

·        Hukum tidak lagi berfungsi untuk menegakkan keadilan

·        Pendidikan tidak menghasilkan karakter bangsa dan kemandirian bangsa

·        Ditanah Air ini pelaksanaan beragama terasa tidak lagi merupakan sumber yang menyejukkan. Malah sebaliknya, ia terasa terbatas pada aspek-aspek ritual saja sehingga tidak mampu memberi rahmat yang diharapkan, dan kini menjadi sumber konflik

·        Apa yang kita sebut budaya ternyata berada jauh dari pengembangan dasar ethika

·        Pembangunan yang didengung-dengungkan selama ini tidak memberikan kesejahteraan kepada rakyat

·        S orang miskin semakin bertambah

·        Pengelolaan sumberdaya alam ternyata jauh dari memperkokoh landasan industri bangsa. Malah sebaliknya, ia meninggalkan kehancuran kepada lingkungan hidup dan gagal mengembangkan atau mengambil alih teknologi

·        Lebih menyedihkan lagi ialah bahwa hubungan antar bangsa, bangsa dan negara Indonesia dihina dan diinjak-injak martabat dan harga dirinya karena negara ini sudah kehilangan kukunya

 

Kesemuanya itu disebabkan karena lembaga-lembaga tinggi tidak benfungsi secara wajar; yakni Lembaga Eksekutif, Lembaga Legislatif, dan Lembaga Judikatif. Korupsi semakin merajalela. Ini disebabkan karena tidak adanya Kepemimpinan Bangsa yang Visioner, Kepemimpinan yang tegas, jelas, keras, dimana perlu kejam, tetapi adil. Jika dibiarkan berlarut-larut Indonesia akan terperosok menjadi NEGARA GAGAL.

 

 

 

 

PENEGASAN MASALAH

(PROBLEM STATEMENT)

 

Dalam Anggaran Rumah Tangga MGB, tertera bahwa Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung mempunyai fungsi antara lain sebagai: i. Agen Perubahan (an Agent of Change); ii. Pusat Pembelajaran (a House of Learning); iii. Penjaga Tata Nilai (a Guardian of Values) dan; iv. Pusat Kebudayaan (a House of Culture). Sehubungan dengan unsur-unsur statuta tersebut maka pertanyaannya adalah:

§         Dimana posisi ITB sebagai suatu Agent of Change setelah melihat dan menyaksikan drama yang sedang berkembang di Benua Asia ini, perlombaan menuju modernitas

§         Lebih tegas lagi, apa yang harus dan dapat dilakukan oleh ITB untuk menggerakkan suatu perubahan kultur sedemikan rupa agar terbangun suatu sistem perekonomian yang berbasiskan pengetahuan dalam kurun waktu tidak lebih dari satu generasi

 

Sebelum mencoba menjawab pertanyaan mendasar itu terlebih dahulu perlu dijelaskan apa yang disebut Masyarakat Pengetahuan (Knowledge Society) itu dan apa yang disebut dengan Sistem Perekonomian Berbasiskan Pengetahuan (Knowledge Based Economy atau KBE), dan apa yang disebut dengan Negara Gagal, Negara Rapuh, dan Negara Stabil agar kita mengetahui apa yang kita bicarakan.


 

MASYARAKAT BERBASISKAN PENGETAHUAN

 

Masyarakat Pengetahuan (Apa, Sejarahnya, dan Dasar Perkembangannya)

Salah seorang pengarang yang pertama-tama menggunakan istilah Masyarakat Pengetahuan adalah Robert E Lane (1966). Alasan yang diberikannya untuk menggunakan istilah itu adalah sebagai berikut, yakni semakin bertambahnya relevansi antara masyarakat dengan perkembangan sains dan teknologi. Sesudah itu ia menamakan sekelompok manusia yang sepaham dengannya sebagai Masyarakat Pengetahuan. Selanjutnya dia memberikan spesifikasi mengenai para anggotanya sebagai berikut:

1.   Selalu mempertanyakan dan menelaah dasar kepercayaannya mengenai manusia, alam, dan masyarakat

2.   Mereka selalu dipandu oleh standar yang objektif tentang kebenaran yang veridikal atau formal dan mereka selalu berada pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi; selalu mengikuti aturan-aturan ilmiah mengenai pembuktian sesuatu

3.   Mereka selalu rela menyisihkan dana untuk penelaahan tersebut, dengan demikian mereka mempunyai banyak sekali pengetahuan

4.   Mereka selalu mengumpulkan, mengorganisir, dan menginterpretasikan pengetahuan mereka dalam suatu usaha yang konstan untuk menarik makna dari semua yang ditelaah dan dikerahkan untuk menyelesaikan masalah yang muncul

5.   Memanfaatkan pengetahuan mereka untuk meng-iluminasikan nilai-nilai dan tujuan-tujuan mereka, dan kadangkala memodifikasi pendapat mereka, dan memajukannya seperti Masyarakat Demokrasi yang mempunyai dasar dipemerintahan dan hubungan interpersonal, dan sebagaimana masyarakat yang makmur mempunyai dasar di perekonomian, Masyarakat Pengetahuan mempunyai dasar di epistimologik dan penelaahan yang mengikuti logika

 

Jadi, menurut Lane (1966) anggota Masyarakat Pengetahuan selalu dipandu oleh (sekalipun kadangkala tidak disadari) standar-standar kebenaran yang dapat dibuktikan (veridical truth). Peter Drucker (1969) juga menggunakan istilah itu. Jadi idea yang dituangkan kedalam thesis ini adalah: menempatkan pengetahuan sebagai fondasi perekonomian dan aksi-aksi sosial lainnya.

 

Timbulnya Masyarakat Pengetahuan tidak terjadi sekonyong-konyong dan bukan lahir secana revolusioner, melainkan secara gradual, selangkah demi selangkah. Dalam pada itu kita semua mengetahui bahwa karakteristik suatu masyarakat mulai berubah pindah ke idea-idea baru. Dunia selalu berkembang dan berubah, demikian juga keyakinan-keyakinan (creeds), gaya hidup selalu berbaur dengan komoditas, tetapi dinding pemisah antara kepercayaan tentang hal yang suci tidak runtuh begitu saja. Makna dan ruang selalu mengalami erosi, tetapi batas-batasnya selalu dihormati.

 

Munculnya Masyarakat Pengetahuan itu terutama mengisyaratkan datangnya transformasi radikal dalam struktur perekonomian dunia. Proses-proses produksi dalam masyarakat industri terutama dikontrol oleh beberapa faktor yang kelihatannya memperlihatkan tanda-tanda mengalami penurunan pentingnya terutama dibagian kedua abad ke 20 (Stehr, 1999). Ini menunjukkan ada sesuatu yang berubah. Dinamika penyediaan dan permintaan bagi produk primer atau bahan-bahan mentah mulai berubah, demikian juga ketergantungan pada tenaga kerja dalam proses produksi juga berubah; pentingnya sektor manufaktur yang mengolah bahan-bahan mentah; peran kaum buruh (dalam arti pekerja kasar) serta organisasi sosial; peran perdagangan internasional dalam hal barang dan jasa; fungsi waktu dan tempat produksi, serta sifat keterbatasan pertumbuhan ekonomi. Denominator yang paling mencolok adalah dalam perubahan struktur perekonomian yang memperlihatkan perpindahan (shift) dari sesuatu yang dimotori dan dikuasai perekonomian kelihatannya tergantung dari masukan-masukan ke proses produksi dan pengorganisasian ke perekonomian dimana transformasi dalam proses produktif dan distributif dengan jelas mulai lebih ditentukan oleh masukan-masukan yang lebih berbasis pengetahuan.

 

Perekonomian industri asal mulanya bersifat perekonomian material, sesudah itu, dengan munculnya Teori Ekonomi Keynes (General Theory 1936 dan Hansen 1953), munculah perekonomian moneter (Monetary Economy). Semua merefleksikan transformasi perekonomian dari masyarakat industri menjadi suatu perekonomian yang sangat dipengaruhi oleh masalah keuangan. Tetapi, dengan berjalannya waktu muncul bukti-bukti perekonomian yang dilukiskan Keynes menjadi perekonomian simbolik (non moneter). Dalam semua proses terlihat bahwa pengetahuan semakin menjadi dimensi yang lebih dominan. Dalam Masyarakat Pengetahuan lebih dipresentasikan oleh kreativitas dan informasi.

 

Kemajuan sains ke dunia kehidupan dan produksi ekonomi dapat dilukiskan dalam banyak hal, seperti:

·        Sebagai penetrasi oleh pengetahuan ilmiah (scientization) dalam banyak lingkungan aksi sosial termasuk proses produksi

·        Sebagai pendesakkan, tetapi bukan secara meng-eliminasi bentuk-bentuk lain dari pengetahuan ilmiah; dengan di mediasikan oleh suatu lapisan keahlian yang semakin tumbuh, para ahli (experts), penasehat serta lembaga-lembaga yang mengerahkan pengetahuan berspesialisasi

·        Munculnya sains sebagai suatu produk yang langsung

·        Sebagai diferensiasi bentuk-bentuk baru dari aksi politik (seperti sains dalam kebijakan pendidikan)

·        Berkembangnya sektor produksi yang baru (the production of knowledge)

·        Sebagai perubahan dari sektor kekuasaan (lihat technocracy debate)

·        Munculnya pengetahuan sebagai dasar ketimpangan sosial dan solidaritas sosial

·        Kecenderungan berdasarkan otoritas pada keahlian

·        Sebagai pengalaman konflik sosial dari perjuangan tentang alokasi pendapatan dan perbedaan dalam hubungan kepemilikan ke tuntutan dan konflik tentang kebutuhan manusia secara umum

Contoh: sistem pendidikan di AS dan Eropa mempekerjakan jutaan pekerja dalam usaha mensosialisasikan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat luas.

 

 

 

 

 

SISTEM PEREKONOMIAN BERBASISKAN PENGETAHUAN

KNOWLEDGE BASED ECONOMY (KBE)

 

Pendahuluan

Pada bab sebelumnya telah dibicarakan Knowledge Society dimana lebih banyak ditekankan pada falsafah dasar serta sejarah perkembangan idea tersebut. Dalam bab ini akan dibahas KBE yakni implementasi Knowledge Society ke kegiatan ekonomi secara riil. Bab ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas latar belakang theoretik, sedangkan bagian kedua membahas bagaimana KBE dilaksanakan dibeberapa negara seperti China, Korea, Singapura, India, dan Taiwan.

 

Ditahun 1996 negara-negara yang tergabung dalam OECD mulai mengarahkan para negara anggotanya ke kebijakan-kebijakan mengenai Teknologi dan Industri untuk memaksimalkan kinerja dan kebaikan KBE, yakni suatu sistem perekonomian yang secara langsung mendasarkan diri pada proses produksi, pendistribusian, serta pemanfaatan pengetahuan dan informasi. Kecenderungan ini (trend) mulai dapat dilihat pada negara-negara OECD dimana perekonomiannya mengarah ke pertumbuhan-pertumbuhan dalam investasi dibidang industri Hi-Tech, lebih-lebih lagi pekerja-pekerja dengan keterampilan lebih tinggi, dan peningkatan keuntungan yang terkait dengan perubahan-perubahan tadi. Sekalipun pengetahuan memang sudah lama terbukti merupakan faktor sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi, para ahli ekonomi mulai benar-benar mencari jalan untuk mengintegrasikan teknologi dan pengetahuan secara lebih jelas lagi dalam model-model teori mereka. Dalam kaitan tersebut New Growth Theory (OECD, 1996) merefleksikan usaha keinginan lebih mengerti peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong peningkatan produktivitas serta pertumbuhan ekonomi. Dalam pandangan itu, investasi dalam research dan pengembangan (R&D), pendidikan, pelatihan-pelatihan, disertai gaya manajemen baru menduduki posisi kunci.

 

Disamping investasi dalam pengetahuan, pendistribusian pengetahuan melalui jejaringan formal dan non-formal sangat essensial dalam perfoma ekonomi. Kodifikasi pengetahuan semakin intensif dilakukan dan diteruskan melalui jejaringan komunikasi lewat komputer dalam suatu masyarakat informasi yang baru muncul. Dalam hal itu termasuk juga pengetahuan yang “tacit”, yakni pengetahuan yang pasti sudah dikuasai tanpa disebut-sebut lagi seperti keterampilan menggunakan pengetahuan yang dikodifikasikan, yang menegaskan pentingnya proses “belajar terus” oleh setiap perusahaan. Dalam KBE, innovasi didorong oleh interaksi antara produsen dan klien/pemakai dalam saling tukar-menukar pengetahuan yang terkodifikasi dari pengetahuan tacit (pengetahuan membisu). Model interaktif seperti itu menggantikan model linear tradisional dalam innovasi. Konfigurasi sistem innovasi yang terdiri dari aliran dan hubungan antar industri dengan pemerintah dan dengan para akademisi yang mengembangkan sains dan teknologi merupakan determinan paling penting dalam kemajuan perekonomian.

 

Mempekerjakan manusia (employment) dalam KBE dicirikan oleh peningkatan permintaan untuk pekerja yang sangat terampil (highly skilled). Bagian dari OECD yang sangat intensif berpengetahuan dan Hi-Tech merupakan yang ber-ekonomi paling dinamik dalam output (luaran) dan pertumbuhan kesempatan kerja. Perubahan-perubahan dalam teknologi, lebih-lebih dengan perkembangan teknologi informasi, membuat pekerja terampil dan terdidik menjadi lebih tinggi nilainya. Kebijakan-kebijakan pemerintah perlu menekankan pada peningkatan mutu modal insani (human-capital) melalui kenaikan-kenaikan pangkat yang dapat dicapai melalui peningkatan-peningkatan keterampilan dan paling utama adalah “kemampuan belajar”; memajukan atau meningkatkan kekuatan pendistribusian pengetahuan (knowledge distribution power) melalui jejaring kolaboratif dan difusi_teknologi; memungkinkan timbulnya kondisi-kondisi bagi perubahan organisatoris pada level suatu perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan teknologi untuk produktivitas.   

 

Sistem sains, dalam hal ini laboratorium research publik dan laboratoria di berbagai perguruan tinggi mengemban tanggung jawab penting dalam KBE, termasuk menghasilkan pengetahuan, transmissi dan transfer. Namun demikian sistem sains di OECD memang menghadapi tantangan untuk merekonsiliasikan fungsi tradisional dalam menghasilkan pengetahuan baru melalui penelitian dasar dan mendidik para ilmuan generasi baru dan para insinyur dalam peran mereka bekerjasama dengan industri-industri dalam pengalihan pengetahuan dan teknologi. Lembaga-lembaga penelitian dan akademia semakin banyak mempunyai mitra dengan industri dalam hal pendanaan dan juga dalam proses-proses pengembangan innovasi; akan tetapi mereka harus mengkombinasikan dengan peran mereka yang essensial dalam penelitian generik dan pendidikan.

 

Pada umumnya pengetahuan kita mengenai apa yang terjadi dalam KBE sangat terhambat oleh kualitas indikator-indikator yang berhubungan dengan pengetahuan itu (OECD 1996). Kerangka akuntasi nasional bersifat tradisional tidak memperlihatkan gambaran-gambaran yang meyakinkan tentang pertumbuhan ekonomi, tentang produktivitas dan tentang kesempatan kerja. Pengembangan indikator-indikator mengenai KBE harus dimulai dengan perbaikan–perbaikan lebih banyak pada masukan-masukan tradisional tentang pengeluaran dalam R&D dan personalia penelitian. Indikator-indikator lebih baik juga sangat diperlukan mengenai “Knowledge Stocks and Flows” terutama  yang berkaitan dengan difusi teknologi informasi baik dalam bidang manufaktur ataupun dibidang jasa; laju “rates of return” dibidang sosial-swasta haruslah lebih baik mengukur dampak teknologi terhadap produktivitas dan pertumbuhan; jejaringan pengetahuan yang berfungsi dan sistem innovasi nasional serta pengembangan dan peningkatan keterampilan modal insani.

 

Apa yang Disebut Knowledge Based Economy/KBE

1.      OECD, 1996: Suatu sistem perekonomian yang langsung berbasiskan pada produksi, distribusi, dan pemanfaatan pengetahuan dan informasi.

2.      UK Dpt. of Trade and Industri (DTI) 1998: Suatu perekonomian yang didorong oleh pengetahuan adalah perekonomian dimana menghasilkan pengetahuan dan eksploitasi pengetahuan itu sudah menjadi primadona dalam usaha mengumpulkan kekayaan.

3.      Dalman and Anderson (2000) dari OECD dan World Bank: KBE adalah suatu sistem perekonomian yang sangat mendorong semua organisasi dibawahnya serta semua orangnya untuk memperoleh, menciptakan, menyebarkan serta memanfaatkan pengetahuan secara lebih efektif lagi sehingga memicu perkembangan sosial dan ekonomi.

 

Ketiga definisi diatas dapat dikatakan yang paling banyak dipakai. Terlihat bahwa tidak ada satu consensus tunggal mengenai pendefinisian KBE itu. Negara-negara lain yang tidak termasuk OECD seperti Korea Selatan banyak dibantu oleh Bank Dunia dan OECD dalam meletakkan dasar pengembangan sistem perekonomian berbasiskan pengetahuan.

 

Apa yang Membuat KBE Seperti Barang Baru

·        Istilah KBE itu sangat menyesatkan selama orang menganggap bahwa “menghasilkan pengetahuan” dapat dipisahkan dari aktivitas ekonomi yang sudah mapan hingga kini dan dapat menjadi sumber bagi pertumbuhan dan produktivitas jangka sangat panjang.

·        Biaya memperoleh informasi yang menjadi begitu mudah seperti: kesempatan untuk mengumpulkan teknologi serta memproses informasi secara besar-besaran dengan biaya rendah berpotensi mempunyai dampak besar pada semua aktivitas ekonomi. Bagaimana?

·        Keluhuran kuantitatif dari KBE, seperti kesempatan yang dibuka oleh integrasi ICT kedalam teknologi yang sudah mapan disertai transformasi langsung kedalam sistem produksi yang bersifat sangat sarat dengan informasi.

 

Ketiga hal inilah yang membuat KBE muncul seperti barang baru. Pentingnya informasi, kehebatan teknologi yang dimanfaatkan sistem produksi sudah dimulai sejak lama, sejak Revolusi Industri, tetapi integrasi ICT baru muncul selama 2-3 dasawarsa ini. Lihat ledakan ICT dalam handphone, komputer, dll. sekarang sudah mulai dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia, dan bekerja menjadi sangat sukar tanpa komputer.  

 

Sebagai Rangkuman Umum yang Singkat KBE Itu:

1.      KBE tidak mungkin direduksikan hingga menjadi satu sektor saja, seperti misalnya dot. coms, atau sektor IT.

2.      Dampak pertumbuhan jangka panjangnya harus dilihat dalam peningkatan intensifikasi pemakaian pengetahuan dan informasi pada sektor-sektor yang memang sudah ada.

3.      Memang dipertanyakan apakah dampak KBE itu akan menyambar juga dibalik ICT ke sektor-sektor lain akan tergantung pada keanekaragaman perubahan sosio-institusional dan massa-kritik (critical mass) dari permintaan pada ICT di sektor-sektor lain.

4.      Jadi, sangat jelas bahwa tidak ada suatu sekumpulan standar yang baku mengenai indikator-indikator KBE.

 

Dari sini dapat dimaklumi kenapa masyarakat negara-negara berkembang sangat lambat sadar dan lambat membangun KBE.

 

Proxi KBE: Individual dan Komposit

o       Indikator Individual

-         Intensitas R&D dan IT.

-         Pelayanan dari bisnis dan pengetahuan yang intensif (Knowledge Intensive Business Services atau KIBS).

 

o       Indikator Komposit

-         European Innovation Scoreboard.

-         EU Global Innovation Scoreboard.

-         World Bank Knowledge Economy Index.

-         Competitiveness Indexes yang memuat serangkaian indikator-indikator tentang pengetahuan.

§         WEF Global Competitiveness Index.

§         WEF Business Competitiveness Index.

§         IMD World Competitiveness Index.

-         Serangkaian scoreboards yang baru muncul.

§         ITU Digital Opportunities Index.

§         Unido World Industrial Development Index.

§         National Innovation Capacity Indexes.

 

Beberapa Indikator Kerangka Konseptual Mengenai Masukan Innovasi Bagi Eropa

·        Penggerak Innovasi, mengukur kondisi struktural yang dipersyaratkan bagi potensi innovasi.

·        Penciptaan Pengetahuan, mengukur investasi dalam faktor-faktor manusia dan dalam aktivitas R&D. Ini merupakan unsur-unsur kunci bagi keberhasilan KBE.

·        Innovasi & kewirausahaan, untuk mengukur usaha kearah innovasi ditingkat ekonomi mikro.

 

Kerangka Konseptual untuk Luaran Innovasi (Eropa)

·        Aplikasi, untuk mengukur performa yang dinyatakan dalam kerja bisnis serta nilai tambah dalam sektor-sektor innovatif.

·        Intellektual Property, untuk mengukur hasil yang dicapai dalam keberhasilan know-how, terutama dalam sektor-sektor High_Tech.

 

Masukan bagi Penggerak Innovasi

·        Jumlah lulusan S&E (Sains & Engin) per 1000 orang berumur antara 20-29 (BA satu tahun hingga Ph.D).

·        Penduduk yang pendidikan tersier per 100 penduduk berumur antara 25-64 tahun.

·        Laju penetrasi “broadband” (jumlah line broadband/100 orang penduduk).

·        Partisipasi dalam kegiatan “Belajar Seumur Hidup” per 100 orang penduduk berumur 25-64.

·        Level tingkat pendidikan remaja sekurang-kurangnya Level Sekunder.

-         Pasokan modal insani dalam kelompok umur diatas.

 

Masukan (Input) untuk Penciptaan Pengetahuan

·        Pengeluaran Publik untuk R&D (% dari GDP).

·        Pengeluaran R&D oleh Bisnis (% dari GDP).

·        Bagian dari medium_High Tech dan High_Tech untuk R&D (% Pengeluaran untuk R&D oleh manufaktur).

·        Bagian dari penerimaan para pengusaha dalam dana publik untuk kegiatan innovasi.

·        Bagian pengeluaran R&D universitas yang dibiayai oleh sektor bisnis.

 

Luaran (Output) Aplikasi

·        Pekerja dijasa Hi_tech (% dari seluruh jumlah tenaga kerja).

·        Eksport produk-produk High_Tech sebagai bagian dari seluruh eksport.

·        Penjualan produk-produk baru ke pasaran.

·        Penjualan produk baru ke firma-firma (bukan baru ke pasaran).

·        Pekerja dalam manufaktur produk-produk High_Tech.

 

Luaran (Output) Intellectual Property

·        Paten-paten baru/jutaan penduduk.

·        Paten-paten baru dari Triad/jutaan penduduk.

·        Merek-merek baru dari komunitas/jutaan penduduk.

·        Desain-desain Industri yang baru dari komunitas/jutaan penduduk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KECENDERUNGAN DAN IMPLIKASI KBE DILIHAT DARI SEGI EKONOMIK

 

Istilah “Knowledge Based Economy” (KBE) lahir dari pengakuan terhadap peranan pengetahuan dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi pada umumnya. Pengetahuan yang memang merupakan bagian dari manusia itu sendiri dan dalam teknologi memang sejak lama merupakan unsur penting dalam perkembangan ekonomi. Hanya baru-baru ini, perannya yang penting itu mulai diakui secara penuh, dan pentingnya peran kedua unsur itu semakin menonjol menjelang akhir-akhir abad ke-20. Perekonomian negara-negara OECD semakin lebih tergantung pada produksi, distribusi, dan pemanfaatan pengetahuan dari masa-masa sebelumnya.

 

Luaran (output) dan penempatan kerja semakin berkembang lebih cepat dalam industri-industri Hi-Tech seperti pada komputer, elektronik, dan dirgantara (aerospace). Dalam dasawarsa-dasawarsa yang lalu, bagian Hi-Tech dalam produksi manufaktur dan dalam eksport lebih besar dan berlipat ganda, mencapai (20-25%). Jasa dalam bidang pengetahuan seperti pendidikan, komunikasi, dan informasi malah tumbuh lebih cepat lagi. Dapat dikatakan bahwa lebih dari 50% dari GDP perekonomian OECD yang besar itu berbasiskan pengetahuan.

 

Dengan sendirinya investasipun terarahkan ke produk-produk Hi-Tech beserta jasa-jasanya, terutama dalam teknologi informasi dan komunikasi. Komputer-komputer dan barang yang terkait dengannya merupakan komponen yang paling cepat serta investasi dalam intangibles. Tidak kalah pentingnya adalah kegiatan R&D, pelatihan-pelatihan bagi para pekerja. Perangkat lunak komputer serta keahlian teknik yang menyertainya.

 

Pengeluaran untuk R&D di negara-negara OECD mencapai 2-3% dari GDP; pendidikan mencapai 12% dari GDP OECD, sedangkan investasi dalam bidang pelatihan berkaitan dengan bidang pekerjaan mencapai 2.5% dari GDP seperti di Jerman dan Austria dimana masih berlaku sistem magang, atau bekerja sambil sekolah. Pembelian perangkat lunak komputer tumbuh dengan kecepatan 12% per tahun sejak pertengahan 1980an, dan ini melampaui penjualan perangkat kerasnya. Pengeluaran untuk memperbaiki produk industri sangat mendorong pertumbuhan dalam jasa-jasa berbasiskan pengetahuan seperti studi dalam bidang teknik (engineering) dan periklanan. Angka-angka neraca pembayaran dalam bidang teknologi memperlihatkan kenaikan 20% antara 1985-1993, termasuk perdagangan dalam paten-paten serta pelayanan teknologi.

 

Di negara-negara OECD item yang sangat dicari dan dihargai adalah pekerja terampil. Pengangguran rata-rata bagi pekerja lulusan SD dan SMP sebesar 10.5%, sedangkan bagi lulusan universitas mencapai 3.8%. Pada umumnya sektor manufaktur mengalami kehilangan pekerjaan dihampir seluruh negara-negara OECD, kesempatan kerja justru terbuka di sektor Hi-Tech, sektor-sektor berbasiskan sains mulai dari komputer hingga ke farmasi. Pekerjaan tersebut bersifat lebih tinggi keterampilannya, dan memperoleh upah lebih tinggi dari para pekerja di industri tekstil atau industri proses makanan. Pekerjaan berbasiskan pengetahuan, terutama dalam bidang jasa, tumbuh dengan sangat cepat. Pekerja-pekerja “pengetahuan,” kadang disebut pekerja “non-production”, jadi mereka yang tidak banyak memakai otot, paling banyak dicari mulai dari teknisi komputer, ahli therapi, para dokter, serta para spesialis dalam bidang marketing. Penggunaan teknologi baru merupakan penggerak bagi keuntungan jangka panjang dalam produktivitas dan penempatan kerja, teknologi-teknologi baru tersebut meningkatkan keterampilan baik dibidang manufaktur maupun dibidang jasa. Disini terlihat bahwa dalam teknologilah, para majikan membayar lebih tinggi kepada pengetahuan dibandingkan dengan kepada pekerja manual.

 

Transmisi Pengetahuan

Sistem sains sangat penting dalam transmisi pengetahuan, khususnya dalam pendidikan dan pelatihan para saintis dan para insinyur. Dalam sistem perekonomian berbasiskan pengetahuan faktor belajar sangat penting dalam penentuan nasib seorang individu, perusahaan dan perekonomian nasional. Kemampuan manusia untuk belajar keterampilan baru serta menerapkannya merupakan kunci untuk menyerap dan pemanfaatan teknologi baru. Para peneliti dan para teknisi yang dilatih secara benar dan baik, sangat penting bagi menghasilkan dan menerapkan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan teknologi. Sistem sains, terutama universitas maha penting bagi pendidikan dan pelatihan bagi pekerja research untuk membangun KBE.

 

Laporan OECD menunjukkan bahwa pembentukan para researcher baru di negara OECD sedikit melambat karena alokasi budget untuk R&D sedikit melemah ditahun 1990an.  Ditahun 1980-an ada pertumbuhan yang substansial dalam jumlah para researcher di OECD; pertumbuhan tersebut mencapai 40% diantara 1981-1989, menghasilkan 65.000-70.000 peneliti baru setiap tahunnya. Ditahun 1990-an pertumbuhan itu melambat. Demikian juga pengeluaran bagi R&D sangat berkurang untuk kurun waktu yang sama; di perguruan tinggi dan di lembaga penelitian negara jauh lebih berkurang dan juga di pihak swasta, tidak peduli dari sektor apa. Para peneliti dihasilkan terutama oleh perguruan-perguruan tinggi, dan bukan oleh pusat-pusat penelitian atau laboratoria yang ada.

 

Berkaitan dengan berkurangnnya pendanaan research, universitas dan perguruan tinggi menghadapi masalah lain, yakni: (1) memberikan pendidikan yang bersifat berbasis_lebar (broad_based) bagi para warga yang menuntut pendidikan, dan (2) mengendalikan pelatihan tingkat tinggi melalui penelitian pada level graduate dan post_graduate. Pada umumnya terlihat perkembangan sangat berarti bagi jumlah mahasiswa yang ada dan para remaja yang mau masuk ke perguruan tinggi. Hal tersebut menimbulkan ketegangan antara pendidikan berkualitas tinggi dan pendidikan berkualitas rendah. Universitas menghadapi masalah-masalah yang pelik, yakni:

1.      Menghasilkan research berkualitas tinggi sambil meningkatkan pelatihan bagi para peneliti muda.

2.      Ada pengurangan dana pendidikan dan dana research.

3.      Meningkatnya jumlah anak muda yang mau masuk ke perguruan tinggi dan universitas.

4.      Dalam pada itu permintaan pasar akan Ph.D baru dengan kualitas research terus meningkat.

5.      Para akademisi menghadapi masalah dalam meningkatkan perhatian kaum muda untuk research, sains dan teknologi.

6.      Tetap meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya masalah berada dibarisan depan pengembangan sains dan teknologi jika tetap mau mempertahankan pertumbuhan ekonomi, dan itu berarti kemakmuran.

 

Pengalihan Pengetahuan

Sistem sains memainkan peran penting dalam usaha mentransfer pengetahuan dan mensosialisasikan/menyebarluaskan pengetahuan untuk seluruh perekonomian. Salah satu pertanda bagi perkembangan KBE adalah pengakuan bahwa menyerapkan pengetahuan (diffusion of knowledge) dan menciptakan pengetahuan sama pentingnya. Hal tersebut mengarah kepada lebih banyak perhatian diarahkan kepada “national distribution networks,” dan “national system’s of innovation,” Kedua agen inilah beserta struktur yang membantu kemajuan dan pemanfaatan pengetahuan dalam sistem perekonomian dan hubungan diantara kedua itu. Kesemuanya itu sangat vital bagi kapasitas suatu negara untuk men-difusikan innovasi-innovasi, dan untuk menyerapkan, serta memaksimalkan sumbangan teknologi ke proses-proses produksi dan pengembangan produk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NEGARA GAGAL, NEGARA RAPUH DAN NEGARA STABIL

 

Negara Gagal

Pada bagian terakhir Prolog disebutkan bahwa unsur-unsur keterpurukan Indonesia jika dibiarkan berlanjut terus, Indonesia akan terperosok menjadi Negara Gagal.

 

Apa yang disebut Negara Gagal itu? Ada beberapa definisi. Noam Chomsky (2006) mengenai Failed States, menyebutkan bahwa: Suatu Negara Gagal itu adalah suatu negara dimana pemerintah pusatnya sudah menjadi begitu lemah dan tidak efektif lagi, sehingga pemerintahannya tidak lagi berdaya terhadap banyak bagian dari territorialnya.

 

Daniel Thürer (1999) menulis: “Failing States are invariably the product of a collapse of the power structures providing political support for law and order, a proses generally triggered and accompanied by anarchic forms of internal violence,” (Negara Gagal merupakan produk dari runtuhnya suatu struktur kekuasaan untuk memberi tunjangan politik untuk ketertiban dan keamanan (law and order), suatu proses yang biasanya dipicu dan disertai kekerasan-kekerasan internal).

 

Selanjutnya Thürer (1999) mengatakan: “negara dimana lembaga-lembaga serta keamanan dan ketertiban (law and order) sudah runtuh (collapsed) sebagian atau seluruhnya dibawah tekanan dan ditengah-tengah kekacauan yang muncul dari meletusnya kekerasan, tetapi tetap berdiri sebagai “pemerintah_hantu” dipeta dunia kini biasa disebut Negara Gagal (failed states atau Etat Sans Gouvernement).”

 

Boutros Boutras-Gali, mantan Sekretaris Jenderal PBB mengatakan: “A feature of such conflics is the collapse of state institutions, especially the police and judiciary, with resulting paralysis of governance, a breakdown of law and order, and general banditry and chaos. Not only are the functions of the government suspended, but its assets are destroyed or looted and experienced officials are killed or flee the country. This is rarely the case in inter_state wars. It means that international intervention must extend beyond military and humanitarian tasks and must include the promotion of international reconsiliation and re-establisments of effective government.”

 

Ada yang berpendapat istilah “failed” itu sangat luas sehingga ada juga yang menganggap keadaan sebaliknya seperti negara agresif, negara tyranik atau totaliter sebagai Negara Gagal. Ini biasanya jika dilihat dari sudut Hukum Internasional. Sebaliknya “negara tanpa pemerintahan” dianggap terlalu sempit. Banyak negara demokrasi Eropa menyusul krisis kabinet, tidak mempunyai pemerintahan; ada yang demikian selama hampir setahun seperti di Italia, dll. negara dalam keadaan demikian tidak dapat dianggap Negara Gagal.

 

Indikator-indikator yang digunakan dalam menilai suatu negara yang dapat dimasukkan ke kelompok negara gagal antara lain adalah: indikator sosial, indikator ekonomi, dan indikator politik.

 

Sejak 2005, suatu lembaga pemikir (Think Tank) Amerika Serikat, dan majalah Foreign Affairs setiap tahun menerbitkan Index yang disebut Failed States Index.

Yang benar-benar disebut Negara Gagal sejak 2006 itu termasuk:

 


 

  1. Sudan
  2. Kongo
  3. Pantai Gading
  4. Irak
  5. Zimbabwe
  6. Chad
  7. Somalia
  8. Haiti
  9. Pakistan
  10. Afganistan
  11. Guinea
  12. Liberia
  13. Rep. Central Afrika
  14. Korea Utara
  15. Burundi
  16. Yemen
  17. Sierra Leone
  18. Burma/Myanmar
  19. Bangladesh
  20. Nepal


 

 

Ada juga negara yang disebut-sebut harus berhati-hati, jika tidak akan menjadi Negara Gagal, Indonesia termasuk disini.

 

Langkah-langkah yang Harus diambil untuk Mencegah Indonesia menjadi Negara Gagal antara lain:

1.      Membersihkan sistem pengadilan (Jaksa dan Hakim).

2.      Kepolisian yang efisien, pintar, bersih dan dicintai oleh rakyat.

3.      Menjaga integritas territorial secara efisien dan efektif.

4.      Birokrasi yang tidak birokratik, ramping dan efisien dengan semangat pelayanan yang ramah (Singapura).

5.      Pemerintah yang bersifat: (1) mengayomi; (2) melayani; (3) berwibawa.

6.      DPR yang memang Dewan Perwakilan Rakyat dan bukan perwakilan partai, tempat mencari duit dengan cara yang sangat kasar. DPR adalah lembaga tinggi negara, dan tempat terhormat.

 

Di Inggris anggota parlemen disebut MP’s (Member of Parliament) sedangkan kaum oposisi disebut “Her Majesty’s Loyal Opposition.”

 

DPR di Indonesia sering terlihat tidak tahu dimana tugas pokok dan fungsi. Banyak kala mau ikut campur dalam tugas eksekutif.

 

Ini disebabkan karena Sistem Bernegara Indonesia sangat kacau sehingga masalah-masalah yang timbul tidak pernah mendapatkan penyelesaian yang tuntas.

 

 

Negara Rapuh

Selain dari Negara Gagal, masih ada lagi istilah Negara Rapuh. Yang disebut Negara Rapuh adalah negara yang sangat lemah kapasitasnya, terutama dalam bidang hukum.

 

Pada saat ini banyak sekali negara yang maju dalam perkembangannya dan dengan langkah baik menuju ke pencapaian Millennium Development Goals (MDG), tetapi sekelompok 35-50 negara dapat dikatakan masih tertinggal (ini sangat tergantung dari ukuran-ukuran dan definisi yang dipakai). Diperkirakan bahwa setiap satu orang dari 6.5 milyar manusia di dunia ini hidup dalam negara yang rapuh. Ini sebetulnya mencakupi 1/3 dari penduduk dunia yang hidup dengan kurang dari US$ 1/hari. Separuh dari semua anak-anak di dunia ini meninggal dunia sebelum mencapai umur 5 tahun. Negara-negara ini bukan tertinggal, tetapi kesenjangan antara negara berkembang lainnya semakin jauh sejak tahun 1970. Ditahun 2006, diantara negara-negara rapuh itu pertumbuhan GDP/kapita hanya 2%, sedangkan angka tersebut mencapai 6% dinegara berpendapatan rendah lainnya. Laporan Bank Dunia (2008) menyebutkan bahwa negara-negara rapuh itu akan bertambah lagi dikelompok negara berpendapatan rendah dimasa akan datang dengan asumsi banyak juga negara berpendapatan rendah itu akan berhasil mengubah status mereka masuk ke kelompok negara-negara berpenghasilan menengah. Jumlah negara rapuh itu akan menjadi lebih parah lagi jika tidak terciptakan cara efektif untuk menangani masalah itu. Dengan demikian bantuan-bantuan pembangunan kepadanya akan sangat kecil manfaatnya.

 

Salah satu ukuran tentang kerapuhan negara adalah menggunakan World Bank’s Country Policy and Institutional Assessment Index (http://go.worldbank.org/7NMQIPOWIO), tetapi ada index-index yang jauh lebih rumit dikembangkan, misalnya Index yang memasukkan faktor keamanan, semakin lebih banyak dipakai.

 

Negara Rapuh itu sangat peka terhadap krisis dalam salah satu dari sub-sistemnya. Negara-negara ini sangat rawan terhadap goncangan internal dan eksternal, dan terhadap konflik-konflik domestik dan internasional. Dalam negara-negara itu, pengaturan mencakupi, dan barangkali pula menyimpan kondisi-kondisi krisis: dalam pengertian ekonomi, ini dapat merupakan lembaga-lembaga yang memperkuat kemerdekaan, atau laju pertumbuhan rendah; atau mencakupi ketidakadilan yang sangat ekstrim (dalam kekayaan, kebanyakan tanah, sangat berlebihan dalam mendapatkan penghasilan). Dalam artian sosial, mungkin mereka kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan dan perawatan kesehatan yang memadai. Dalam artian politik, mungkin terdapat lembaga-lembaga yang memang memelihara kondisi-kondisi eksekutif bagi koalisi-koalisi kekuasaan.

 

Dalam hal ini Indonesia harus sangat berhati-hati, khususnya dalam menjaga angka kemiskinan. Sekarang ini masih simpang siur. Ada yang mengatakan jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 40%.

 

Kompas (21 Agustus 2008) menyebut: 52.1 juta pekerja Indonesia miskin dengan upah US$2 (Rp. 18.500) sehari. BPS menyebutkan ada 102.05 juta pekerja.

 

Selanjutnya Kompas memberitakan bahwa ada 4.5 juta pengangguran terdidik. 4.516.100 dari 9.427.600 orang penganggur yang disebut tadi merupakan tamatan SMA, SMK, berdiploma, dan universitas. Faktor-faktor demikian itu yang membuat Index Indonesia yang negatif menjadi bertambah. Dengan sendirinya Indonesia termasuk Negara Rapuh (Fragile State). Satu langkah lagi Indonesia menjadi Negara Gagal. Faktor-faktor itu ada antara lain banyaknya korupsi dikalangan atas (DPR, Eksekutif, dan Judikatif). Ketidakmampuan pemerintah pusat melindungi warganya: 21 orang wanita tua mati terinjak untuk memperebutkan uang zakat sebesar Rp. 30.000. Hal-hal sedemikian membawa Indonesia selangkah lagi menuju Negara Gagal.

 

Negara Stabil

Disamping Negara Gagal, Negara Rapuh, masih ada lagi istilah Negara Stabil.

 

Negara Stabil adalah suatu negara dengan landasan institusional seperti sistem bernegara itu sangat kuat, sehingga dengan mudah dapat menangkis semua goncangan yang datang sedemikian rupa agar semuanya dapat di “contain” didalam batas wilayah kekuasaannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRANSFORMASI CHINA KE KBE

 

Perkembangan China dalam Bidang IT dan Software

Dibandingkan dengan negara-negara Asia lain yang sedang bangkit dan merintis jalan menuju KBE seperti India, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan, China menempuh jalan yang sangat berbeda dalam membangun industri perangkat lunak (software). Sejarah China dalam bidang ini sangat baru. China baru mulai dengan industri ini ditahun 1990-an. Sebaliknya industri software India sudah mendahului China lebih dari 30 tahun sebelumnya. Yang ada hanyalah Systems Integrators dengan nilai teknologi yang sangat rendah. Munculnya perusahaan software yang melakukan kombinasi antara pemograman dan pengembangan sistem baru muncul diawal-awal 1990-an dengan mulai pemakaian PC secara luas.

 

Baru pada saat itu industri software menjadi bagian penting dari industri IT. Sebagai keseluruhan baru mencapai ¼ dari seluruh penjualan, jadi sekitar 30% setahunnya. Ini tidak berarti sama dengan produksi industri besar-besaran dalam perangkat keras lain yang mengambil 90% dari US$11 milyar penjualan dibidang IT. Dengan terjadinya Economic Boom ditahun 1990-an, investasi asing yang langsung (Foreign Direct Investment) dalam bidang IT mengalir dengan deras ke China; mereka benar-benar memanfaatkan tenaga kerja yang melimpah dengan upah rendah.

 

Sejak 1949 China memusatkan pada kemandirian industri, akan tetapi lebih terpusatkan ke bidang kemiliteran. Sebaliknya semua perkembangan sains dan teknologi sangat terencana dan dikoordinasikan oleh pusat. Perlu dicatat China sudah berhasil membuat komputer ditahun 1958 tetapi tidak ada informasi seberapa baik dan apakah banyak digunakan di China pada awal-awalnya. Tetapi perkembangan industri software belum tampak secara benar-benar komersial selama 40 tahun.

 

Dalam pada itu keadaan politik di China mulai berubah dan perekonomian yang terencana secara sentral lambat laun mulai berorientasi kearah perekonomian pasar terbuka (Open Market Economy) ditahun 1980-an (lihat Prolog, Deng memulai reformasi ditahun 1978). Baru sejak itu industri software mulai benar-benar menjadi penting dalam kebijakan-kebijakan pemerintah, tetapi masih belum benar-benar terlihat jika dibandingkan dengan unsur-unsur lain dalam perencanaan R&D ditahun-tahun antara 1986-2000.

 

Pada awal-awal 1990-an lembaga pemerintah meluncurkan serangkaian program-program besar yang ditujukan untuk mempercepat diffusi IT kedalam perbankan, jejaringan komputer dalam telekomunikasi yang mulai berdampak pada usaha  membina dan membedakan industri software (lihat Tabel mengenai Software Policies). Yang sangat berperan dalam hal itu adalah kementrian sains dan teknologi yang meluncurkan Program Torch yang dimulai ditahun 1988, dan 863 program mulai bergulir ditahun 1986. Program Torch itu saja membiayai beberapa ribu program R&D yang berorientasi pada industri sekaligus memberikan bantuan keuangan untuk mengkomersialkan penelitian akademik. Program-program tersebut sangat menunjang bagi perkembangan akademik. Apakah memang betul-betul bermanfaat secara langsung terhadap industri software sangat dipertanyakan (Francesco Veloso et al, 2003). Program-program itu merangkum banyak macam industri seperti photo-electronics, software, dan biotech; yang paling menonjol pengaruhnya terlihat dari munculnya 19 buah “taman-taman software” (Software Parks) dan menyebar keseluruh negeri. Sejak 2000 hingga kini, kebanyakan software yang dihasilkan oleh China berasal dari park-park tersebut. Yang sangat luar biasa dalam hal itu adalah perusahaan-perusahaan komputer besar (Founder and Legend). Namun demikian mereka itu mulai dikenal lewat hardware yang dihasilkan. Kini ia menjadi suatu konglomerat IT dan tidak hanya suatu perusahaan software saja. Diawal-awal tahun 2000 Departemen Perencanaan dan Pembangunan meluncurkan 10 pusat-pusat dasar untuk software yang berada disekitar Shanghai, Dalian, Chengdu, Xi’an, Jinan, Hongzhou, Changsha dan Nanking.

 

Menjelang akhir tahun 1990-an beberapa proyek emas (Golden Projects) pemerintah mulai meluaskan infrastruktur untuk e-commerce dan e-government (Lovelock et al, 1997). Akhirnya, sesuatu yang benar-benar lepas landas ialah pemanfaatan pembelian oleh pemerintah terhadap semua sistem IT yang ada, terutama pada level regional dan tingkat kotapraja. Ini sangat mendorong kota-kota seperti Shanghai dan propinsi-propinsi seperti Shandong. Banyak sekali systems-integrators seperti Wenda di Shanghai dan Top di Chengdu sangat diuntungkan oleh langkah pemerintah itu. Segi negatifnya adalah bahwa lembaga-lembaga negara dan lembaga-lembaga di propinsi lebih menyenangi perusahaan domestik (lokal ataupun regional). Kecenderungan itu menghambat munculnya perusahaan nasional yang benar-benar besar untuk bersaing di dunia internasional.

 

Baru ditahun 2000 industri software mulai tampak secara nyata. Di tahun itu dikeluarkannya Dokumen 18 dari Majelis negara yang dikenal sebagai “Catatan tentang beberapa kebijakan untuk memajukan industri software dan industri “Integrated Circuit”. Dokumen itu mengatakan bahwa menjelang 2010 baik R&D maupun kemampuan manufaktur bagi industri software harus mendekati tingkat negara-negara maju. Beberapa butir penting adalah:

-         Pengembalian sebagian VAT digunakan untuk kapasitas R&D dan untuk perluasan usaha tersebut.

-         Reduksi (temporer) dalam pajak pendapatan pada awal-awal tahun 1990-an baik bagi pengusaha, pemula, maupun yang sudah kawakan untuk beberapa sektor tertentu.

-         Cara cepat memperoleh persetujuan bagi perusahaan software yang mau memanfaatkan bursa efek luar negeri.

-         Pengecualian tarif dan VAT terhadap import untuk teknologi dalam peralatan-peralatan.

 

Disamping itu ada target pertumbuhan sebesar 30% pertahun selama (2001-2005) bagi industri software dan IT (termasuk integrated circuits). Penjualan ditargetkan mencapai US$20 milyar menjelang 2005; bersamaan dengan itu China akan membangun 20 perusahaan software besar yang memasukan revenues melebihi US$ 120 milyar (1 milyar RMB) dan lebih dari 100 merek-merek software baru.

 

Dengan demikian mereka mentargetkan pertumbuhan untuk industri IT lebih dari 30%; eksport software ditargetkan mencapai (penjualan) US$20 milyar menjelang 2005. Dengan kebijakan-kebijakan daerah yang baru diharapkan untuk menarik investasi bagi daerah mereka masing-masing dalam mendirikan perusahaan-perusahaan baru.

 

Dengan berkembangnya industri software sedemikian kompetisi antara propinsi semakin meningkat. Dibulan Agustus 2001 suatu Majelis Negara mendirikan Information Leading Group, suatu badan tingkat tinggi dan dipimpin sendiri oleh Perdana Menteri Zhu Rongji yang khusus menangani pengembangan software dan isue-isue teknologi yang lain. Salah satu prioritasnya adalah menetapkan standar dan kebijakan koordinatif antara badan-badan pemerintah yang baru. Akhirnya dibulan Juni 2002 (karena sudah ada Microsoft, Nokia, dan Intel) China memperluas pengembangan kebijakan software ditingkat regional dengan mendirikan pabrik-pabrik dibawah lisensi sebanyak 11 buah berupa pusat-pusat software diseluruh China seperti dikota Changsha, Nanjing, Xian, dan Dalian.     

 

Transformasi China ke KBE Dirinci dalam Tahapan Berikut

1.      Bagi China dasar KBE adalah memanfaatkan pengetahuan bagi pembangunan atau perkembangan. Berdasarkan definisi China mengenai KBE ditahun 2001, ada beberapa hal penting berikut ini:

 Ada Empat Pilar yang mendasari KBE, yakni:

-         Perekonomian yang sehat, dan keberadaan rezim kelembagaan.

-         Rakyat yang terdidik baik dan rakyat yang terampil.

-         Infrastruktur ICT yang efektif.

-         Sistem Innovasi yang benar-benar efektif.

2.      Pencapaian China dalam bidang Ekonomi:

-     1978-Dasarnya adalah Reformasi dan Membuka Diri terhadap Masyarakat Global.

-     1993-Tujuan Reformasi: menegakkan “Socialist Market Economy”.

-     2001- China secara resmi bergabung dengan WTO.

 

Dasar Perekonomian Mikro berubah:

·        Suatu pasar fungsional diciptakan.

·        Perusahaan yang dimiliki oleh berbagai pemilik saling bersaing satu dengan yang lainnya.

·        Pemerintah mendefinisikan perannya secara jelas.

 

Terintegrasikan ke Perekonomian Global

  • Masuknya Investasi asing yang langsung (FDI).
  • Volume perdagangan semakin meningkat.

(25 tahun sesudah Reformasi dan membuka diri, China mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi yang berlanjut).

 

Tantangan Bagi Perkembangan China yang Berlanjut

  • Terbatasnya sumberdaya alam dan kendala-kendala lingkungan hidup (lahan, air, dan bahan-bahan mentah lainnya).
  • Kapasitas lingkungan hidup untuk menunjang masyarakat modern.
  • Kapasitas pertumbuhan  sangat perlu di tingkatkan.
  • Perkembangan sosial tidak setara dengan pertumbuhan.

-     Ekonomi.

-     Pendidikan.

-     Kesehatan.

-     Jaminan sosial.

-     Kesenjangan antara kelompok-kelompok sosial.

-     Kesenjangan antara satu daerah dengan wilayah yang lain.

·        Neraca Perdagangan yang memburuk.

-     Proteksionis semakin meningkat dan gesekan-gesekan dalam perdagangan.

3.      Jumlah Investasi dari luar (FDI) meningkat secara mengkhawatirkan.

4.      Transformasi ke KBE untuk menjawab Tantangan Pola Industri Baru:

·        Fokus kepada pertumbuhan industri.

·        Mempromote teknologi dan informasi.

·        Investasi dalam sumberdaya insani.

·        Memanfaatkan sebesar-besarnya ICT.

·        Memperkokoh pengaturan sosial.

Essensi Transformasi itu terletak pada transformasi pertumbuhan berdasarkan input (masukan) menjadi pertumbuhan berdasarkan pengetahuan.

 

Keuntungan Bagi LDC (Less Developed Countries) dalam Era Pengetahuan

Keuntungan bagi pendatang baru: dapat belajar dari pengalaman negara yang sudah berkembang adalah:

-         Untuk memperoleh teknologi dari negara maju.

-         Mengurangi ketidakpastian dengan memanfaatkan teknologi yang diketahui bermanfaat.

-         Pengembangan Teknologi dapat dipadatkan (waktu disingkatkan).

-         Lokalisasi teknologi terkadang diperlukan pada kasus-kasus tertentu.

-         Lompatan kodok atau mencari jalan pintas terkadang mungkin.

 

Pentingnya Belajar

Belajar untuk menjadi pelajar yang baik: kapasitas belajar merupakan sesuatu yang amat penting bagi negara-negara berkembang:

-         Belajar untuk berproduksi.

-         Belajar memperoleh teknik manajemen.

-         Belajar mengubah teknologi yang ada.

-         Belajar mengintrodusir perubahan-perubahan organisatoris.

-         Belajar berinnovasi.

 

Sumber-sumber Teknologi untuk Negara Berkembang

(Memperoleh informasi teknologik bagi perkembangan industri di China)

·        Alih Teknologi melalui FDI.

·        Membeli peralatan baru dimana teknologi sudah termasuk didalamnya (embodied technology).

·        Membeli teknologi baru secara tersendiri dan terpisah (disembodied technology).

·        Kerjasama dengan perusahaan asing.

·        Innovasi sendiri melalui R&D dalam negeri.

 

Belajar Innovasi Baru untuk Negara Berkembang

Ruang untuk berinovasi baru beserta masalah yang biasa dihadapi negara berkembang. Feature yang dihadapi:

·        Tingkat perkembangan yang dihadapi saat itu.

·        Lingkungan kelembagaan.

·        Faktor-faktor hibahan.

·        Kondisi-kondisi baru yang muncul.

·        Lingkungan dan suasana perdagangan.

(ketergantungan pada faktor-faktor hibahan serta kondisi permintaan sangat strategik)

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemajuan Teknologi China

·        Karena masih merupakan negara berkembang: belajar masih tetap merupakan sesuatu yang sangat penting.

·        Ekonomi dalam peralihan: baik sistem perekonomian maupun sistem nasional dalam berinnovasi yang masih dalam restrukturisasi.

·        Menghadapi globalization: perolehan teknologi dipermudah oleh globalisasi.

·        Revolusi Teknologi: ICT merupakan unsur yang mengubah bentang alam kemajuan teknologi bagi semua negara berkembang.

 

Membangun Kemampuan di Level Ekonomi Mikro

Pemanfaatan Teknologi untuk berinnovasi dalam membangun kekayaan dan kemampuan. Berikut kemampuan-kemampuan yang harus dibangun lebih dulu:

·        Kemampuan manajerial! Mempekerjakan semua sumber, mengkoordinasikan semua aktivitas untuk semua bisnis.

·        Kemampuan fungsional: pengembangan produk; manajemen produksi; pemasaran dan pelayanan.

·        Kemampuan teknis: meng-import; “mencernakan”, dan langsung meng-innovasikan teknologi.

 

Ringkasan Mengenai Kemajuan Selama Dua Dasawarsa Reformasi di China

·        Selama 2 dekade ber-reformasi, terbangun sistem Perekonomian Pasar Terbuka yang cepat dan luas. Sebaliknya proses itu yang memicu Pertumbuhan Ekonomi Cina.

·        Sebaliknya banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam menjamin perkembangan yang berlanjut. Banyak sekali masalah terkumpul selama 2 dekade itu (tidak disebutkan apa saja masalah itu).

·        Solusinya ialah: mengubah pertumbuhan berdasarkan masukan berkualitas rendah menjadi KBE yang sangat efisien.

·        Lebih memperdalam Reformasi tersebut merupakan keberhasilan utama bagi Transformasi China.

Beberapa tahapan dalam kebijakan China mengendalikan dan memajukan industri softwarenya dapat dilihat pada table 1.

 

 

 

 

Tabel 1. Kebijakan dibidang Industri Software China menuju Lepas Landas

 

Beberapa Indikator Ekonomi China adalah sebagai berikut ini:

 

GDP Growth                                        : 10.1%

GDP                                                    : US$ 1.94 Trill. (PPP: US$12.9 Trill.)

Inflation                                                : 3%

Population                                            : 1.33 bill.

GDP/Capita                                         : US$2.960 (PPP: US$9.700)

 

Source: The Economist, January, 2008 (Special Edition)

Untuk lebih rinci lihat Lampiran China.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRANSFORMASI INDIA MENUJU KBE

 

Pendahuluan

Dari sekelompok negara-negara Asia Timur yang bangkit dan sangat berpotensi menjadi suatu negara adidaya adalah India; dalam hal ini yang sangat istimewa adalah Diaspora India. Sekitar 20 juta orang keturunan India berada disekitar 70 negara di dunia ini. Orang India merupakan 40% dari penduduk Fiji, Mauritus, Trinidad, Guyana dan Suriname. Selain itu mereka merupakan kaum minoritas penting Malaysia, Afrika Selatan, Australia, Srilanka, Uganda, Inggris (UK), Amerika Serikat (US) dan Kanada.

 

Aspek paling penting dari masalah sebaran orang keturunan India/Persons of Indian Origin (PIO) sebanyak 20 juta itu adalah bahwa setiap tahunnya mereka berpenghasilan US$364 milyar. Dibandingkan dengan GDP India sendiri yang sebesar US$550 milyar dengan penduduk yang sudah melebihi satu milyar jiwa. Dari orang migran asal India itu sebagiannya sangat berhasil sebagai pengusaha. Keberhasilan mereka berdampak sangat positif, baik bagi negara dimana mereka berkarya maupun bagi India sendiri. Beberapa kelompok yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh antara lain adalah:

1.      Orang India dari Gujarat yang bermigrasi ke Afrika Timur pada awal-awal abad ke-20. Mereka bersama orang Gujarat yang sudah berada disana mendominasi beberapa sektor kunci, seperti perdagangan intan. Dimasa pasca Perang Dunia ke II, orang India itu dan beberapa bangsa Asia Selatan lainnya sangat membantu mensuplai tenaga kerja di Eropa dan di Inggris. Diaspora India itu yang terdiri dari 1-2 juta orang menjadi sangat menonjol di UK dan sangat berhasil dalam beberapa sektor bisnis di UK dan dalam profesi sangat ahli seperti dalam IT dan Kedokteran.

2.   Orang India dalam kedokteran sangat dicari oleh National Health Service di UK. Dari 10.000 dokter di NHS (UK) itu 6% berasal dari India.

3.  Dari 18.250 orang emigran dalam profesi IT yang memasuki UK di tahun 2000, 11.474 berasal dari India.

4.  Di tahun 2000, ada sekitar 300 orang yang sangat berpengaruh (bukan penduduk (citizen) Inggris) dalam bisnis di UK, dan ada 150 orang kaya dan kaum bisnis India yang sangat berpengaruh serta terhormat. Mereka itu adalah:

-         Laksmi Mittal, terlibat dalam industri baja.

-         Lord Swara Paul, terlibat dalam memanufaktur dan mensuplai produk besi baja dan teknik.

-         Jasminder Singh, terlibat dalam perhotelan.

-         Manubhai Madhuani, terlibat dalam industri gula.

-         Gulu Laluani, terlibat dalam industri elektronika.

 

Dalam bidang politik pun orang asal India itu sangat aktif terutama di tahun 2000. Mereka mempunyai 4 orang yang terpilih menjadi anggota Parlemen Inggris, dan 11 orang di Majelis Tinggi (House of Lords). Ditingkat lebih rendah ada sekitar 250-300 orang “councilors” berasal dari India tersebar diseluruh UK.

 

Akhir-akhir ini, pekerja kasar dan pekerja terlatih di Timur Tengah banyak dipenuhi orang asal India. Orang-orang asal India tersebut mulai mengubah lanskap (landscape) fisik dalam ketenagakerjaan di Saudi Arabia dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

 

Di AS dan di Kanada orang keturunan India itu sangat berhasil dalam profesi padat pengetahuan seperti rekayasa (engineering), teknologi informasi, kedokteran, keuangan, administrasi bisnis, dan akuntansi.

 

Keberhasilan Orang-orang Keturunan India di AS

Survai Merril Lynch (2004) menemukan bahwa sekalipun ada resesi kecil di AS, orang India itu tidak saja berhasil mempertahankan kekayaannya, bahkan menambah kekayaannya itu. Dari 1.7 juta orang India di AS, 200.000 daripadanya merupakan millioner. Penghasilan rata-rata dari PIO di AS itu mencapai US$60.093/setiap orang pertahun, sedangkan penghasilan orang Amerika (median) hanya US$38.885. Disamping itu 67% dari orang India yang lahir di AS itu tamatan universitas. Ini 3x lebih tinggi jumlahnya dari orang AS rata-rata, dan 44% dari jumlah itu memegang posisi professional ditingkat manajerial. Kebanyakan PIO di AS berkecimpung di bidang-bidang: kedokteran, engineering, manajemen, dan manajemen bisnis.

 

Diantara 1960-1970an kebanyakan orang-orang PIO yang bermigrasi ke AS adalah para insinyur, doktor, ahli hukum. Setelah menetap di AS mereka banyak masuk ke sekolah/perguruan tinggi Amerika dan memperoleh gelar Ph.D, Masters, MBA, dan mulai bekerja di perusahaan-perusahaan seperti IBM, Boeing, Bell Laboratories, dan Du Pont.

 

PIO di AS dalam Berbagai Bidang Hi-Tech:

1.      Teknologi Informasi: 300.000 PIO bekerja dibidang ini. Tetapi banyak sekali di level atas dalam hirarki birokrasi dunia bisnis.

2.      Bidang finansial internasional dan manajemen: beberapa orang India terkemuka dalam posisi eksekutif dan manajerial:

-         Rajat Gupta, Managing Director, McKinsey and Co.

-         Victor Menzes, Senior President, Citigroup.

-         Rono Dutta, CEO United Airlines.

-         Vijay Gordia, CEO, Vinmar International Ltd.

-         Shalesh Mehta, CEO, Provian.

-         James Wadia, Managing Director, Arthur Anderson & Co.

-         Rajesh Gangwal, CEO, US Airways.

-         Vikram Pundit, CEO, Morgan Stanley.

-         Ramani Nayar, CEO, Hartford Insurance & Finansial Group.

3.      Industri kesehatan: ada lebih dari 38.000 dokter dari PIO yang bekerja dalam bidang ini.

 

Disamping itu semua, banyak sekali PIO yang memiliki dan mengelola sendiri perusahaan kecil. 77.000 dari 135.000 toko-toko kecil di AS dan mereka memperkerjakan sekitar 300.000 orang. Total penjualan toko-toko itu di AS ditahun 2003 mencapai US$337 milyar dengan laba (before tax) sekitar US$ 4.04 milyar. Sebaliknya dari toko-toko itu yang dimiliki PIO dan penjualan sekitar US$195 milyar dengan laba (before tax) sebesar US$ 2.2. milyar.

 

Diaspora India di AS memiliki 17.000 hotel (dari 47.000 jumlah seluruh hotel di AS), mereka memperkerjakan 700.000 orang. American Asian Hotel Owners Association (AAHOA) mewakili komunitas ini, market value mereka ditaksir US$38 milyar.

 

Study oleh Dun&Bradstreet (1998) menemukan bahwa ahli-ahli India telah memulai “start ups” di Silicon Valley sebanyak 778 buah dan mempekerjakan 16.598 orang. Business Week (1998) melaporkan bahwa sekitar 40% “start ups” di silicon valley di tahun 1990 setidak-tidaknya punya seorang founder dari PIO. Kini terdapat 650-700 perusahaan di Silicon Valley yang sebagiannya dimiliki orang India atau seluruhnya.

 

Pada saat ini ada 20.000 milioner dari PIO yang tinggal disekitar San Fransisco. Secara keseluruhan perusahaan-perusahaan mereka memiliki market Value sebesar USD 235 milyar. Keadaan ini melaju dengan cepat. Dua orang dari investor-investor pertama Google adalah PIO.

 

Revolusi IT di India

Diantara tahun fiscal 1997-2003 pasaran IT India tumbuh 25.5% pertahun (angka ini benar-benar luar biasa). Sumbangan IT terhadap pertumbuhan GDP India juga menakjubkan dari 1,2% ditahun fiscal 1997 menjadi 3.57% ditahun fiscal 2003 (lihat gambar 1)

 

Gambar 1

 

Eksport perangkat lunak dan jasa IT merupakan 62% dari pasaran IT India selama tahun fiscal 2003, kedua item tersebut merupakan 38% dari pertumbuhan gabungan antara tahun 1997-2003. Sumbangan mereka terhadap eksport India juga meningkat dari 4.7% ditahun(f) 1997 menjadi 21.3% ditahun (f) 2003 (lihat Gambar 2)

 

Evalueserve meramalkan bahwa eksport India dalam perangkat lunak IT dan jasa akan terus meningkat dan mencapai 26% CAGR (Compound Annual Growth). Dalam US dollar itu berarti US$38.7 milyar (lihat Gambar 3 dan Gambar 4)

 

Gambar 2. Eksport IT dan Eksport Software dari India untuk FY 1997-2003

 

Gambar 3. Pertumbuhan Eksport IT India diperkirakan dalam US$ untuk FY 2003-2008

 

Gambar 4. Model “delivery” bagi Eksport Software India untuk FY 2003

           

 

“Offshoring Knowledge_Intensive Services” Secara Global Menguntungkan India

 

Suatu Imperatif Ekonomi

Sebagaimana disebut sebelumnya mengenai konsep dasar Knowledge Society, pola berbisnis mengalami perubahan sangat drastik. Menjelang akhir Abad ke-20 sudah mulai terlihat kecenderungan yang sangat mencolok. Sekonyong-konyong menjadi keharusan bagi perusahaan besar melakukan out sourcing. Tetapi bagi perusahaan besar di AS, UK, Kanada dan beberapa negara di Eropa, outsourcing berarti keluar negeri dimana biaya produksi dan biaya jasa dapat ditekan menjadi sangat rendah dan lebih sering daripada tidak, kualitas pekerjaan sekurang-kurangnya sama dengan di negeri asal, bahkan lebih. Dengan sendirinya offshoringnya jatuh ke India, dan beberapa negara Macan Asia lain dapat melakukannya. Dalam hal IT dan pemanfaatan pengetahuan India sangat kuat. Tetapi ada satu faktor lagi, perusahaan besar negeri asal itu (AS, UK, Kanada dan lain-lain) banyak sekali Senior Eksekutifnya, bahkan CEOnya adalah PIO. Ini yang disebut “Pucuk di Cinta Ulam pun Tiba.” PIO di negara maju itu sangat bercokol dengan kokoh, dan dinegeri asalpun, dalam hal ini India, sangat siap dengan IT, pemanfaatan pengetahuan, dan bidang Hi-Tech yang lain, seperti dalam bidang kesehatan, engineering, finance dan manajemen. Dalam pada itu berkembangnya internet dimana mengirimkan informasi dan pengetahuan menjadi sangat rendah, disertai digitalisasi yang efektif, semuanya menguntungkan India. Jadi, dengan demikian secara alami India pelan-pelan masuk ke dunia KBE berkat keberadaan Diaspora India dan banyaknya ahli-ahli India di India sendiri dalam IT dan Hi-Tech lainnya.

 

Secara ekonomik hal tersebut dapat dilukiskan melalui beberapa contoh berikut ini:

Berdasarkan analisis AS (Congressional Budget Office-CBO) GDP riil AS diproyeksikan bertambah dengan 3.2%/tahun selama 2003-2010. Berdasarkan pertimbangan secara menyeluruh AS akan kekurangan tenaga kerja terampil; kebutuhan itu tumbuh dari 137 juta (2003) menjadi 150.2 juta ditahun 2010. Dengan pertimbangan akan ada pertambahan karena imigrasi dari luar, masih tetap akan ada kekurangan 5.6 juta pekerja terampil menjelang 2010 (Evalueserve, 2004). Jadi satu-satunya cara mengatasi hal tersebut adalah outsourcing keluar negeri, atau off-shoring.

 

Sukar Ditiru Negara Berkembang Lainnya

·        India mempunyai akar tradisi dalam matematik yang sangat dalam, juga dalam pendidikan ilmu-ilmu pengetahuan alam lainnya.

·        Dalam mendirikan IT dan memicu pengembangan lembaga-lembaga research dan perguruan-perguruan tinggi pemerintah India sejak PM Nehru mengalokasikan dana yang besar.

-         Pada saat ini India menghasilkan 2.45 juta sarjana setiap tahunnya; 200.000 dintaranya adalah insinyur, 73.000 merupakan IT professionals; 117.000 dokter dan 40.000 MBA.

-         Hal itu sangat menolong memperkokoh kedudukan kaum Diaspora India diluar negeri dan untuk menumbuhkan kemampuan dalam negeri. Sebaliknya di India sekarang terdapat 59 juta anak-anak antara 6-14 tahun yang tidak mendapatkan pendidikan dasar. Ini akan merupakan masalah besar bagi India.

·        Hanya sedikit pemerintah di dunia ini yang ambil sikap “hands off,” terhadap perkembangan jasa dalam banyak bidang seperti IT, kesehatan beserta medical tourism, jasa BPO dan Jasa KPO.

·        Imigrasi tenaga kerja secara besar-besaran ke AS kini akan sangat sukar setelah 11 September 2001.

·        Kelihatannya, dalam memanfaatkan Diaspora sepenuhnya (dalam engineering, kedokteran, korporasi-korporasi besar, “start ups”, industri perhotelan, dan Venture Capitalists) hanya India yang melakukannya.

·        PIO yang berhasil di UK, AS, Canada mempunyai banyak kawan-kawan semasa sekolah dulu tetapi berkeputusan tetap tinggal di India. Dengan demikian apa yang dilakukan diluar negeri mudah ditiru di India karena mereka saling berhubungan dan saling berkepentingan. 

 

Tahapan dalam kebijakan India dalam mengendalikan industri softwarenya dapat dilihat dari Tabel 2.

 

Beberapa Indikator ekonomi India adalah sebagai berikut:

 

GDP Growth                                        : 7.9%

GDP                                                    : US$1.33 Trill. (PPP= US$5.3 Trill.)

Inflation                                                : 5.2%

Population                                            : 1.13 bill.

GDP/Capita                                         : US$ 1.138 (PPP: US$4.720)

 

Source: The Economist January, 2008, Special Edition

Untuk lebih detail lihat Lampiran India 1-2

 

Tabel 2. Kebijakan dibidang Industri Software India menuju Lepas Landas

 

 


 

 

 

 

 


 

IT DAN INDUSTRI IT DI INDONESIA

 

Indikator Ekonomi Indonesia

Pada saat ini Indonesia berpenduduk 230 juta jiwa dengan GDP sebesar US$462 bill.; GDP/kapita sebesar US$ 3400 (PPP) untuk tahun 2007. Penyebaran penduduk sangat tidak merata. Dari 230 juta itu lebih dari 60% bermukim dipulau Jawa, dan konsentrasi kekayaan sementara ini masih berada di Pulau Jawa.

 

Perkembangan GDP dan perkembangan laju pertumbuhan dilukiskan dalam lampiran Indonesia (lampiran 2a-c). Untuk GDP/kapita tahun 2008 disebut US$3979.001 (lihat Indonesia 1a-c).

 

Pandangan Umum Mengenai Pasar IT di Indonesia Saat Ini

Bussiness Monitor International (BMI) memproyeksikan bahwa pasaran IT di Indonesia ditahun 2012 akan mencapai US$5 milyar. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa terdapat kesenjangan amat besar antara pasaran di Jawa dan Luar Jawa. Jumlah penduduk yang begitu besar membuka dua kemungkinan:

1)      Kesenjangan itu menghambat kemajuan perkembangan industri, tetapi

2)      Kesenjangan itu dapat memicu pertumbuhan besar karena mulai terlihat adanya demam PC diseluruh Indonesia. Penetrasi PC pada saat ini sebesar 2%, dan dengan semakin menurunnya harga PC ditahun-tahun mendatang.

 

IT terlihat mulai memainkan peran penting dalam cakupan industri yang sangat luas. Perkembangan ICT untuk sementara baru terbatas pada wilayah-wilayah yang relatif kaya saja seperti disebutkan sebelumnya. Dengan semakin besar kesadaran propinsi-propinsi yang bersifat otonomi akan adanya kompetisi diantara propinsi. Tetapi semua harus ada koordinasi dari pusat.

 

Indonesia pada saat ini diperkirakan akan membelanjakan 11% diantara 2007-2012 (GAGR). Ini jika benar-benar terlaksana akan membuat Indonesia dapat tumbuh lebih cepat dari kebanyakan negara-negara Asean lainnya. Kelihatannya bahwa pasar IT masih sangat terhambat oleh kendala struktural yang ada dan rendahnya infrastruktur telekomunikasi. Kendatipun demikian terjadi peningkatan penjualan yang berarti dalam PC ditahun 2007 terutama dalam Notebook. Iklim ekonomi akan sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumen dengan sektor retail menjadi sangat penting bagi para vendor. Usaha kecil dan menengah mungkin akan menjadi pusat perhatian masyarakat mengingat penggunaan komputer pada umumnya masih sangat rendah. Memang ada kemungkinan bahwa pengeluaran untuk IT akan tumbuh dengan adanya pendekatan-pendekatan baru, yakni diciptakannya komite-komite/panitia baru yang dipimpin sendiri oleh Presiden. Pada saat ini pemerintah Indonesia sangat mendorong perkembangan e-government yang terintegrasikan, disamping memajukan pendidikan dan latihan dibidang tersebut, dan memajukan infrastruktur. Pengeluaran pemerintah dibidang ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan India dan Singapura.

 

Kelihatannya sektor perbankan dan jasa-jasa finansial akan memanfaatkan kesempatan tersebut dan akan lebih cepat perkembangannya dengan memanfaatkan IT.

 

Perkembangan Industri

Kelihatannya kelemahan terbesar terletak pada kurangnya kerjasama yang erat antar lembaga-lembaga bagi usaha pengembangan e-government. Menurut Bpk. Djoko Agung Hariadi, Direktur dalam masalah e-government di Dpt. Komunikasi dan Informatika setiap lembaga pemerintah membangun platformnya masing-masing secara terpisah. Pemerintah sebaliknya menekankan bahwa pusat perhatian Direktorat Jenderal Telematika pada tahun ini adalah pada pengembangan aplikasi e-government tersebut, dan infrastruktur publik yang bersifat kunci. Namun demikian terlihat adanya usaha pemerintah untuk mengintegrasikan semua kegiatan-kegiatan tersebut. Pemerintah Pusat memberikan kepada Pemda-Pemda paket-paket software yang meliputi antara lain bidang kesehatan, demografi dan logistik. Disamping itu mulai tumbuh inisiatif antar beberapa departemen untuk memajukan program “satu pintu” untuk memperoleh ijin eksport dan import. Untuk memperlancar itu semua diadakan CIO (Chief Information Officer). Menurut Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika posisi itu dibutuhkan oleh semua lembaga pemerintah.

 

Landskap Kompetisi (Competitive Landscape)

Pertumbuhan Pasar IT Indonesia pada saat ini telah membuat banyak lembaga, kelompok, individu menjadi mampu membeli komputer kepada lapisan menengah-bawah. Para vendor merespon kesempatan-kesempatan itu dengan menyediakan produk dengan bermacam-macam harga. Para vendor global seperti HP, Acer, dan Lenovo yang menyediakan produk-produk dengan harga antara US$500-US$2000. Pada pihak yang sedikit lebih rendah, harga-harga itu semakin menjadi lebih terjangkau sekalipun bagi masyarakat umum yang luas barang-barang itu masih mahal.

 

Ditahun 2008 Del memasang strategi untuk menjadikan segmen konsumen sasaran utamanya, dan mengandalkan kepada keberhasilan segmen korporasi. Perusahaan tersebut meluncurkan 4 produk laptop dan desktop yang lebih langsing. Dilain pihak Lenovo mengambil alih strategi untuk memusatkan pada pasar konsumer dengan produk-produk mereka sendiri dan sekaligus memasok pasar komersial dengan produk-produk IBM yang ada.

 

Dibulan Mei 2008, Bill gates mengunjungi Indonesia. Pada saat itu Indonesia memang memikirkan untuk memperpanjang kerjasama dengan Microsoft sekalipun banyak pendapat yang cenderung untuk mempromosikan “Open Source Software.” Ditahun 2005 Indonesia sudah melansir “Open Source Software” itu dengan tujuan meng-counter usaha-usaha pembajakan software yang sedang marak, dan mengurangi ketergantungan yang besar pada satu sumber dalam satu pemasok dan sekaligus memicu perkembangan manufaktur lokal.

 

Ditahun 2007 penjualan Notebook merupakan pendorong pertumbuhan pasar untuk PC dan mencapai penjualan 60% dari seluruh unit. Asosiasi industri Apkomindo meramalkan bahwa ditahun 2008 ini penjualan akan mencapai 2 juta unit. Ini berarti naik 100% dari tahun 2007 sebelumnya. Penjualan komputer (termasuk Notebook dan seluruh peripheralsnya) akan mencapai US$1.9 milyar untuk tahun 2008, jika tercapai ini berarti lebih besar dari penjualan tahun 2007 yang mencapai US$1.7 milyar.

 

Sebagai keseluruhan pasar Notebooks melampaui pasar PC keseluruhan. Ini disebabkan oleh harga yang semakin rendah dan produk-produk menjadi semakin kecil, ringan tetapi tetap berkemampuan besar. Jadi, diperkirakan tahun 2008 akan menjadi tahun Notebook. Feature-feature baru sangat penting terutama feature multimedia, game, film dan connectivity dengan TV. Harga Notebook dan PC terus turun. Desktop kini seharga US$500, sedangkan Notebook mulai dari US$500.

 

Software

Untuk tahun 2008 BMI menyebutkan bahwa penjualan software (yang legal) mencapai US$361 juta, sedangkan ditahun 2007 penjual hanya mencapai US$310 juta.

 

Salah satu dari fungsi utama bagi majelis Teknologi Informasi dan Komunikasi yang dibentuk tahun 2007 itu adalah memberantas pembajakan software. Indonesia merupakan salah satu pembajak paling jelek didunia, khusus dalam hal ketidakmampuan pemerintah mengatasinya. Diperkirakan bahwa sekitar 85% software yang dipakai di Indonesia adalah software bajakan (Software Business Association (2008)). Issue pembajakan itulah yang melatarbelakangi penandatanganan MOU antara Pemerintah Indonesia dan Microsoft tahun lalu. Dalam MOU disebutkan bahwa Pemerintah Indonesia sepakat membeli 35,496 buah copy lisensi dari Microsoft Windows Operaring Systems dan 117,480 buah copy lisensi paket MS Office seharga US$41.9 juta. Selama 2007-2012 diperkirakan GAGR mencapai 15%.

 

Jasa IT

Jasa IT untuk tahun 2008 diperkirakan akan mencapai US$500 juta. Ini berarti kenaikan 14% dari tahun 2007 yang mencapai US$439 juta. Penggunaan jasa hardware merupakan bagian terbesar bagi sektor jasa IT di Indonesia dengan bagian sebesar 20%. Jasa-jasa tersebut terutama mencakupi bidang-bidang systems integration, support systems, pelatihan-pelatihan, jasa professional, outsourcing dan jasa internet. Sektor GAGR untuk kurun waktu 2005-2012 diperkirakan sebesar 13%.   

 

Kesimpulan tentang Kesiapan Indonesia Memasuki KBE

Indonesia merupakan suatu Benua Maritim dengan 17.508 pulau-pulau dimana luas wilayah nasional Indonesia disebut ± 7 juta km2, tetapi 70% ditutupi oleh lautan. Mau tidak mau, suka atau tidak ICT merupakan jawaban untuk memperkecil jarak, dan menyingkap waktu.

 

Pada kenyataannya Indonesia dengan penduduk sebesar 237 juta jiwa itu hanya 20 juta yang memiliki line telepon yang tetap dan dengan infrastruktur yang lemah. Kenyataan itu memang menunjukkan bahwa dalam bidang IT Indonesia masih sangat lemah. Oleh karena itu Harus dibuat Siap! dan mulai dari sekarang.

 

Pemerintah juga mulai meluncurkan program jaringan Pendidikan Nasional (National Education Network) berbasiskan internet. Ini merupakan sesuatu yang menggembirakan. Kerja keras dan cermat menanti kita semua, sebab ICT penetration rate setinggi 20%, dan dengan hanya 14% penduduk Indonesia yang menggunakan internet (± 32 juta pemakai). Dengan kepadatan line telepon yang rendah, biaya pemasangan yang tinggi, dan pemasukan PC yang sangat rendah memang merupakan PR yang sangat berat. Tetapi tanda-tanda bahwa masyarakat Indonesia mempunyai hasrat bergerak kearah tersebut merupakan titik-titik terang. Ini harus diperkuat. Perguruan tinggi dan lembaga-lembaga pendidikan lain harus berinisiatif memicu masalah ini. Dengan demikian banyaknya perguruan tinggi dan dengan anggaran pendidikan menjadi 20% setahun dari keseluruhan APBN, hal ini pasti dapat dicapai; membutuhkan kerja keras, kerapihan perencanaan dan kejujuran serta keikhlasan Indonesia akan sampai juga.

 

Beberapa Indikator-indikator Ekonomi untuk tahun 2008 adalah sebagai berikut:

 

GDP                                                    : US$ 462 milyar (PPP: US$1.10 Trill.)

GDP Growth                                        : 6.4%

Inflation                                                : 5.8%

Population                                            : 237 mill.

GDP/Capita                                         : US$1.950 (PPP: US$ 4.680)

 

Sumber: The Economist January, 2008 (Special Edition)

Lebih detail lihat lampiran 1a-1c dan 2a-2c.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRANSFORMASI KOREA KE KBE

 

Pendahuluan: Kenapa Korea Membangun KBE

Pencapaian Korea dalam perkembangan ekonomi sesudah Perang Korea sangat menakjubkan. Korea merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Antara 1966 dan 1996 pendapatan perkapita Korea tumbuh sebesar 6.8% per tahun. Di tahun 1996 Korea menjadi anggota OECD. Tetapi menjelang akhir 1997 perekonomian Korea mengalami krisis, sebagaimana juga beberapa Negara Asia Timur. Dampaknya sangat jelek, hampir sejelek akibat Perang Korea. Namun demikian Korea cepat bangkit kembali dan ekonominya tumbuh mencapai 10.7% ditahun 1999, dan pemerintahannya memperkirakan bahwa perekonomiannya tumbuh sebesar 8% hingga dengan tahun 2000, dan mulai mendatar lagi setinggi 6% sesudah itu.

 

Lepas dari krisis tadi, pada dasarnya Korea menghadapi krisis yang lebih mendasar, yakni kompetisi global. Upah di Korea terus meningkat, dalam pada itu kompetisi internasional semakin menghimpit Korea, yakni upah-upah rendah di Asia Timur. Sekalipun eksport dalam manufaktur yang pesat, Korea mengalami himpitan dari negara-negara OECD yang sangat kaya dan tekanan-tekanan dari Negara Asia Timur lainnya seperti China dan dari negara berkembang Asia Timur yang masih sangat miskin. Oleh karena itu, Korea tidak mempunyai pilihan lain, ia harus menjalani Transformasi ke arah KBE.

 

Revolusi Pengetahuan Secara Global

Memahami sains disertai cepatnya kemajuan dalam bidang informasi dan teknologi komunikasi (ICT) merupakan beberapa faktor penting untuk berkompetisi. Berkurangnya biaya transportasi dan komunikasi disertai kemajuan teknologi mengarah ke pembentukan masyarakat dunia yang saling terkait dan saling ketergantungan yang kuat tetapi berkompetisi secara sengit.

 

Para investor selalu mencari keuntungan dari mereka yang bergerak cepat, produk-produk baru dan pelayanan baru yang dapat merespon permintaan pelanggan yang selalu berubah-ubah. Kecepatan perubahan pada ICT dan internet menyingkap non-efisiensi dalam pasar yang terbuka pada perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga. Hal itu semua menekan harga, mempercepat kebutuhan untuk merestrukturisasi, dan harus berubah menghadapi kondisi internasional yang semakin berubah. Semua proses itu juga memajukan efisiensi dari lembaga-lembaga pemerintahan yang saling berhubungan yang diikuti dengan meningkatnya pelayanan pemerintah kepada publik. Kenyataannya adalah Korea harus meningkatkan produktivitasnya secara keseluruhan. Dimasa lalu Korea mengandalkan pada investasi modal yang besar dan pertumbuhan dalam input tenaga kerja. Sekalipun hasilnya baik, sebetulnya kurang memadai jika dibandingkan dengan pertumbuhan outputnya. Bentuk baru dalam networking dan peralatan untuk itu juga mengubah pola bekerja secara sosial, leisure (bersenang-senang dalam kesantaian) dan komunikasi. Perubahan-perubahan itu ternyata menciptakan tiga tantangan, yakni:

 

Tantangan Pertama

Sebagian tersebar dari pertumbuhan ekonomi Korea di dekade-dekade terakhir sangat tertekan oleh akumulasi modal yang deras yang dimungkinkan oleh kecepatan tabungan dan meningkatnya masukan tenaga kerja, jumlah faktor mengenai pertumbuhan produktivitas dibidang manufaktur dan pelayanan menurun di sektor-sektor seperti keuangan, asuransi dan pelayanan bisnis, serta perdagangan retail, dsb. Faktor keseluruhan tentang produktivitas sebenarnya menjadi negatif. Pertumbuhan dimasa akan datang haruslah berupa: pertumbuhan berdasarkan produktivitas dengan ditingkatkannya efisiensi investasi dalam modal fisik serta pengetahuan.

 

Investasi dalam pendidikan, infrastruktur untuk informasi, dan R&D sebagai prosentase GDP Korea sebenarnya tertinggi diantara perekonomian negara-negara OECD. Namun demikian negara dan masyarakat tidak dimanfaatkan oleh investasi-investasi tersebut. Itu semua dikarenakan masalah-masalah yang berkaitan dengan insentif ekonomi secara keseluruhan dari rezim kelembagaan yang ada, serta isu-isu yang spesifik menyangkut kebijakan-kebijakan serta struktur pada ketiga domain. Antara lain ini menyangkut:

·        Kondisi yang tidak sesuai untuk melahirkan serta mengeksploitasi pengetahuan dan informasi (hak cipta intelektual serta kerangka-kerangka pengetahuan IT).

·        Tidak cukup kompetisi, fleksibilitas, dan keanekaragaman (e.g. pengaruh “chaebol”, system finansial, dan system pendidikan).

·        Pengalokasian investasi yang salah (duplikasi dalam investasi publik di R&D, tidak cukup investasi untuk R&D dasar. Terlalu banyak investasi di pendidikan agar cepat lulus saja).

 

Menurut para perencana Transformasi Korea itu, masalah-masalah tadi sangat serius. Mereka membuat orang ragu terhadap kemampuan Korea untuk mencapai pertumbuhan berlanjut.

 

Tantangan kedua

Mengingat masalah globalisasi akan menerpa semua masyarakat dunia, Korea terpaksa “meng-internasionalkan diri.” Bukan hanya dalam perdagangan melainkan juga harus mencoba lebih ter-integrasi dengan sistem global. Ini akan menyangkut:

·        Partisipasi lebih aktif dalam forum internasional dan dimana perlu memegang tampuk pimpinan, terutama dalam komisi-komisi, kelompok-kelompok kerja, panitia yang akan menentukan jalannya perekonomian baru (WTO, WIPO, ISO, dan OECD).

·        Beraliansi dengan universitas kelas dunia, memupuk usaha tukar menukar Guru Besar dan mahasiswa, lebih memajukan pengetahuan serta kemahiran dalam berbahasa asing serta kebudayaan asing.

·        Menyadap secara lebih efektif lagi kedalam sistem pengetahuan global melalui program research bersama, memasukkan karya ilmiah secara bersama dengan guru besar yang aktif dalam bidang itu; FDI kedalam atau keluar, men-subkontrakan research ke universitas-universitas diluar Korea.

·        Harmonisasi dengan standar-standar internasional yang sedang berkembang. Lebih aktif lagi berpartisipasi dengan Internasional Telecommunications Union.

 

Tantangan ketiga

Dalam konteks Revolusi Pengetahuan dan Perekonomian secara “networking”. Peran pemerintah Korea harus di definisikan kembali. Pemerintah Korea memang telah memainkan peran penting dalam memicu pertumbuhan ekonomi Korea. Dirasakan bahwa dalam masa transisi ke KBE itu Pemerintah Korea harus memainkan peranan lebih penting lagi, akan tetapi peran itu harus berubah, yakni harus dari membuat kebijakan bersifat “interventionist” bagi strategi yang dipimpin oleh pemerintah sendiri berdasarkan pertumbuhan industri besar, terutama peran para “Chaebol”. Sistem Korea itu terasa terlalu “sangat diatur.” Perilaku beberapa aktor saja sangat terkendali oleh prosedur-prosedur yang terlalu kaku, dan peraturan-peraturan yang terlalu menjelimet. Sebaliknya, “cara bermain” untuk mencapai level tertentu harus sangat kompetitif, transparent, dan untuk memajukan “equitable economy” tidak cukup berkembang.

 

Mencapai prasyarat-prasyarat KBE berarti membuat pasar berfungsi lebih efektif sehingga mereka dapat  memfasilitasi pengerahan sumber-sumber daya yang diperlukan secara lebih luwes. Hal ini tidak bisa terjadi jika terus-terusan terjadi intervensi dalam perkembangan ekonomi oleh pemerintah. Unsur-unsur yang harus diubah antara lain adalah: 

·        Membebaskan kekuatan kreatif pasar.

·        Menyediakan legalitas bagi pasar yang lebih bebas dan lebih kompetitif, rule of law, standar-standar untuk transparansi, akuntabilitas, lembaga-lembaga pengaturan yang lebih modern.

·        Membangun infrastruktur legal untuk perkembangan KBE, hak cipta intelektual, undang-undang tentang cyber mengenai kebebasan pribadi, keamanan, dan transaksi-transaksi digital.

·        Membina kebijakan dan lembaga yang kondusif bagi perkembangan wirausahawan (entrepreneurships), dan pengembangan perusahaan (memfasilitasi keluar masuk pada banyak wilayah dan bidang termasuk menghilangkan peraturan-peraturan yang menghambat berkembangnya badan-badan usaha baru).

 

Kerangka bagi KBE

Sesuai definisinya KBE adalah suatu sistem perekonomian dimana pengetahuan (codified or tacit) diciptakan, diperoleh, diteruskan (transmitted) dan dipergunakan secara lebih efektif oleh pengusaha, organisasi, para individu, dan komunitas guna memperoleh perkembangan ekonomi lebih besar. Dengan demikian KBE itu membutuhkan:

·        Suatu rezim ekonomik dan rezim institusional yang memberikan insentif bagi pemanfaatan pengetahuan yang ada secara efisien, bagi penciptaan pengetahuan baru, dan untuk meruntuhkan aktivitas yang obsolete (kuno, kadaluarsa) serta memulai kegiatan baru yang lebih efisien.

·        Suatu penduduk yang berpendidikan serta bersemangat kewiraswastaan (entrepreneurial spirit) yang dapat memfasilitasi komunikasi yang efektif serta dapat memproses informasi, dan

·        Suatu sistem innovasi yang mencakupi perusahaan-perusahaan, pusat-pusat sains dan research, universitas, “think tanks”, para konsultan, dan organisasi-organisasi lain yang dapat berinteraksi serta dapat menyadap dari gudang pengetahuan global, mengasimilasi dan menyesuaikan diri pada kebutuhan lokal, serta memanfaatkannya untuk menciptakan pengetahuan baru.

 

Insentif ekonomi dan rezim institusional secara eksplisit terdapat dalam definisi KBE itu. Karena itu sangat sentral terhadap kemampuan keseluruhan dari sistem ekonomi itu untuk dapat memanfaatkan secara efektif pengetahuan dengan sangat kritis terhadap ke-efektifan dari tiga wilayah kunci yang disebutkan sebelumnya. Contohnya: mendorong terus reformasi terhadap insentif ekonomi secara langsung membuat para “Chaebol” menjadi sedikit lebih “kurus”, lebih kompetitif dan dengan sendirinya lebih berbasiskan pengetahuan. Hal tersebut akan memaksa menyingkirnya aktivitas-aktivitas ekonomi yang tidak dapat dipertahankan lagi serta memberikan kesempatan kerja bagi pendatang-pendatang baru. Ia membuka permintaan terhadap pendidikan dan sektor infrastruktur informasi; akan membebaskan innovasi, kreativitas serta kewirausahaan penduduk Korea.    

 

Beberapa Indikator Ekonomi Korea Selatan adalah sebagai berikut:

GDP Growth                                        : 5.3%

GDP                                                    : US$1.3 Trill. (PPP: 1.26 Trill.)

Inflation                                                : 2.4 %

Population                                            : 49.2 mill.

GDP/Capita                                         : US$20.820 (PPP: US$25.550)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM SINGAPURA MENUJU KBE

 

Latar Belakang

Perekonomian Singapura tumbuh rata-rata 8.5% per tahun selama 1965-1997. Terhalang sejenak oleh krisis keuangan di Asia Timur ditahun 1997. Tetapi Singapura cepat sekali bangkit kembali. Hanya Singapura selalu waspada, selalu bertanya apakah jalan yang mereka tempuh selama kurun waktu tertentu sudah benar, atau apakah peran Singapura sebagai negara pulau yang dikelilingi oleh negara-negara lebih besar dan mengingat perubahan bersifat global tidak memaksa Singapura berubah haluan, berubah taktik dan strategi menghadapi semua kemelut di dunia ini. Bagi Singapura semua harus berubah; dalam taktik, strategi dan tujuan dasar. Akan tetapi harus ada kestabilan sosial-politik. Hal itu langsung menyangkut kepemimpinan Singapura. Dengan lain perkataan yang tidak boleh berubah adalah Lee Kuan Yew sebagai Pengayom negara.

 

Singapura mengalami banyak gelombang perubahan seperti menghadapi:

1.      Menjelang akhir 1960-an Kerajaan Inggris mengumumkan akan menutup kamp-kamp militernya di Singapura.

2.      Lepas dari Malaysia menjadi republik tersendiri ditahun 1965.

 

Singapura mulai secara sangat sistematik dan terarah melakukan restrukturisasi perekonomiannya dan membuatnya jauh beraneka ragam, terutama dibidang industri. Semasa itu terlihat: pemerintah Singapura secara jelas dan kuat meng-intervensi jalannya perekonomian. Singapura berpenduduk 1.6 juta, luas wilayahnya 581 km2, dengan GDP (seluruh) sebesar US$2 milyar.

 

Kini Singapura mulai berpikir bahwa daerahnya sangat terbatas, sumberdaya alam boleh dikata sangat-sangat terbatas. Tetapi letaknya sangat strategik dan rakyatnya pekerja keras. Jadi, Singapura mulai memperluas dan mempermodern pelabuhannya, dan bersamaan dengan itu Singapura berkembang menjadi pusat keuangan, mula-mula sebagai pusat keuangan regional, lama-lama menjadi pusat keuangan Asia, dan akhirnya menjadi salah satu pusat keuangan dunia. Penanaman modal asing (FDI) yang langsung mengalir terus berkat meningkatnya industri jasa di Singapura. Pada fase itu seakan-akan apa yang lama harus diperbaharui dan diperbaiki seperti kelembagaan, insentif dalam bidang perpajakan, Kawasan Berikat Perindustrian, memperbaharui sistem pendidikan dengan penekanan pada sains dan teknologi, serta pelatihan dalam bidang-bidang industri. Dari saat itu semuanya meningkat. Manufaktur, industri padat karya (tekstil dan garmen), komponen-komponen elektronik, dan perbaikan kapal. Secara berangsur-angsur industri padat modal mulai menggantikan industri padat karya. Menjelang 1970 Singapura menekankan pada tiga Cluster perindustrian (industrial clusters):

Cluster I  : Rafinasi/penyulingan minyak dengan mengimport minyak dari Timur Tengah.

Cluster II   : Pembuatan kapal dan perbaikan kapal.

Cluster III : Elektronik (merakit, pembuatan komponen) dengan perusahaan-perusahaan Amerika, Eropa, Jepang dengan menawarkan tenaga kerja terampil yang murah, infrastruktur (fisik) yang sangat baik disertai insentif bagi penanaman modal.

 

Dari kesemuanya, perekonomian Singapura dapat dikatakan dikendalikan oleh suatu majelis Tripartite (Tripartite Wage Council yang terdiri dari unsur-unsur Pemerintah-Serikat-Serikat Buruh-Para Majikan (di industri)). Dengan demikian jarang sekali, praktis tidak ada kericuhan dengan buruh sehingga tidak terjadi pemogokan-pemogokan yang melumpuhkan. Ini sangat penting. Dalam dunia usaha mereka selalu menekankan pada manufaktur dan jasa. Semua itu berlanjut hingga akhir 1980an.

 

Arah-arah Baru

Setelah mengalami resesi ditahun 1997 mereka memikirkan langkah-langkah berikut:

ii.       Jangka pendek: agar keluar cepat dari resesi.

iii.      Perencanaan jangka panjang untuk mengubah arah.

§         Terutama, Singapura harus segera berubah dari status hanya sekedar suatu production-base menjadi pusat bisnis internasional dengan menarik perusahaan-perusahaan besar untuk membangun pusat usahanya di Singapura dan melakukan “product development,” mengelola aktivitas dalam perbendaharaan (treasury activities), menyediakan jasa administratif, teknis, dan jasa manajemen.

§         Kedua, Singapura harus menjadi peng-eksport jasa, bukan hanya untuk kegiatan-kegiatan di Singapura sendiri seperti kepariwisataan dan perbankan, melainkan juga pada kegiatan-kegiatan diluar Singapura (offshore based activities). Untuk mencapai itu, Singapura harus:

-         Menjamin adanya “good governance.” Infrastruktur yang efisien, peningkatan pendidikan dan pelatihan-pelatihan, free enterprise, flexibilitas, tabungan yang tetap tinggi, menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif (biaya bersaing, pajak rendah, peraturan-peraturan yang bersahabat, sikap biaya bekerja yang baik), bersandar pada sektor swasta, memajukan aktivitas bisnis diluar negeri, membina MNC yang ada, dan perusahaan-perusahaan lokal.

 

Satu kali mereka sudah aman dari dampak krisis keuangan 1997 itu, Singapura mulai merencanakan hal-hal berikut: membangun Singapura menjadi “total business center” dan mengembangkan Hi-Tech, manufaktur bernilai tinggi, dan jasa-jasa yang sangat sophisticated. Jadi, langsung membangun pertumbuhan bermesin-dua, yakni manufaktur dan jasa tingkat tinggi. Secara sadar dan terencana mereka membangun orientasi internasional, mempertahankan kemampuan berkompetisi tingkat internasional, dan kesemuanya diarahkan ke dua bidang besar, yakni: 1. Manufaktur produk Hi-Tech; 2) Industri Jasa tingkat tinggi. Kesemuanya itu dikendalikan dan dipantau seterusnya oleh EDB (Economic Development Board).

 

Diawal tahun 1970an Singapura sudah menjadi pusat keuangan regional dengan didirikannya Asian Dollar market; mengumpulkan dana dari seberang untuk dipinjamkan ke negara-negara seberang. Dalam hal itu Singapura menduduki tempat ke-3 sesudah Tokyo dan Hongkong.

 

Banyak sekali lembaga keuangan di Singapura, termasuk lebih dari 200 bank komersial dan perdagangan. Di Singapura terdapat 4000 MNC dengan markas regionalnya. Mereka menikmati keuntungan time-zone yang menjembatani Eropa dan Australia; sistem transportasi dan komunikasi, suatu framework pengaturan financial yang sangat efisien, tenaga terlatih yang tersedia, insentif menarik bagi investasi, kestabilan politik, sosial dan ekonomi. Dengan landasan itu Singapura sudah lebih dari siap untuk memasuki era KBE.

 

Memasuki Era KBE di Abad ke-21

Kini tantangan Singapura ialah mentransformasikan diri menjadi negara dengan KBE. Untuk itu mereka butuh: modal manusia dan modal intelektual, menyerap, memproses dan menerapkan pengetahuan, kemampuan besar dalam teknologi, kultur kewirausahaan, suatu masyarakat cosmopolitan yang menarik dan terbuka, berhubungan erat dengan simpul-simpul pengetahuan secara global. Untuk itu mereka butuh lompatan kuantum.

 

Dibulan Mei 1997, sebelum krisis keuangan Asia menerkam Singapura, pemerintah Singapura mendirikan Panitia Kompetitif Singapura (CSC) untuk meng-asses daya kompetitif Singapura untuk 10 tahun kedepan, dan untuk merekomendasikan kebijakan-kebijakan strategik.

 

Kebijakan-kebijakan Baru Tersebut adalah Sebagai Berikut:

·        Terus mempertahankan manufaktur dan jasa sebagai pertumbuhan bermotor ganda.

·        Memperkuat sayap luar untuk mendampingi perekonomian domestik sebagai sumber pertumbuhan.

·        Terus membangun perusahaan-perusahaan berkelas dunia dan “core competences” untuk dapat bersaing di perekonomian global.

·        Sambil membina terus perusahaan lokal.

·        Mengembangkan modal manusia dan modal intelektual yang mampu berkompetisi dalam biaya, dengan kemampuan-kemampuan yang tinggi.

·        Selalu memanfaatkan sains dan teknologi serta kemampuan ber-innovasi sebagai alat berkompetisi.

·        Mengoptimumkan pengelolaan sumberdaya dengan memajukan sumber-sumber daya alternatif, dan pemanfaatan yang efisien, serta

·        Memanfaatkan pemerintah sebagai fasilitator bagi sektor swasta melalui kebijakan-kebijakan ekonomik yang sehat guna melahirkan lingkungan yang kondusif.

 

Apa yang Terlihat pada Semua Kebijakan-kebijakan yang Muncul Sejak dari Awal? Yang Jelas Adalah:

·        Peran pemerintah yang sangat jelas mempromote dan melindungi para pengusaha dan mengembangbiakkan para wirausahawan baru. Dalam hal itu yang sangat diutamakan adalah:

§         Clean governance dan stabilitas.

§         Mengutamakan modal manusia dan modal intelektual untuk dapat memanfaatkan sains dan teknologi.

§         ICT sangat dianjurkan dimanfaatkan disetiap kesempatan.

§         Dari awal ambisi Singapura adalah bermain di perekonomian global, dan akhirnya menjadi pusat kegiatan bisnis bagi seluruh dunia.

§         Oleh karena itu jasa dalam manajemen, keuangan, akuntansi, perbankan sangat diutamakan.

§         Sewaktu mereka berkeputusan mau memasuki KBE, Singapura sebenarnya sudah menjadi pusat bisnis dunia, terutama dibelahan Asia Pasifik. Jadi, dengan mudah Singapura meluncur dengan prasarana, sarana, sumberdaya insani yang tinggi, sistem kelembagaan yang sempurna, berkembang menjadi Masyarakat Ekonomi Berbasiskan Pengetahuan.

§         Tetapi apa inti dari segala-galanya yang membuat Singapura demikian? Jawabnya adalah karena:

i.         Singapura adalah negara-kota yang kecil.

ii.       Tidak mempunyai sumberdaya alam.

iii.      Manusianya berkultur Sinik (Cinic Culture) (ulet, rajin, hemat, kerja keras).

iv.     Di atas segala-galanya ada faktor Lee Kuan Yew yang menjamin good governance dan stabilitas sosial-politik. Lee Kuan Yew memerintah dengan tangan besi bersarung tangan beludru.

 

Beberapa Indikator Ekonomi Singapura 2008 adalah sebagai berikut:

GDP Growth                                        : 5.1%

GDP                                                    : US$162 bill. (PPP: US$198 bill.)

Inflation                                                : 1.0%

Population                                            : 4.6 mill.

GDP/Capita                                         : US$35.640 (PPP: US$ 43.420)

 

Untuk angka sebelum tahun-tahun sebelumnya lihat lampiran Singapura.


 

Text Box: Lampiran Singapura

 

 


 

CITA-CITA TAIWAN MENCIPTAKAN “GREEN SILICON ISLAND”

Gambar 5. Skema Taiwan membayangkan Green Silicon Island Mereka

 

Kenapa Taiwan Perlu Membangun KBE?

Kecenderungan Global

·        Globalisasi

Meningkatnya globalisasi berarti menekan biaya produksi tidak lagi menunjang perkembangan berlanjut. Jadi, Taiwan harus mendorong masyarakatnya untuk berinnovasi, dan mulai membiarkan venture-venture baru untuk tetap dapat berkompetisi secara global.

·        Cyberisasi

Internet mempercepat distribusi informasi dan pengetahuan; hal itu memudahkan kombinasi dengan faktor-faktor yang tepat, dan memperoleh hasil yang lebih baik. Negara-negara maju di dunia seperti Amerika Serikat sangat memanfaatkan cyberspaces untuk mendessiminasikan pengetahuan dan informasi, dan dengan demikian meraih banyak keuntungan.

·        Manfaat untuk Taiwan

Penerapan pengetahuan dan internet serta mengintegrasikan pengetahuan dan “core competence” dari industri-industri yang ada tidak diragukan akan dapat meningkatkan kemampuan Taiwan berkompetisi dan akan mendapat keuntungan. Ini merupakan strategi kunci yang dapat mendorong Taiwan itu maju.

 

Keuntungan-keuntungan Taiwan

·        Taiwan memang sudah lama memiliki semangat entrepreneur yang kuat dan innovatif.

·        Sudah berdiri industri IT. Dalam nilai produksinya Taiwan menduduki tempat ke 4 di dunia.

·        Industri Hi-Tech yang dapat berkompetisi secara global merupakan lebih dari penghasilan eksportnya.

·        Kualitas sumberdaya insani dengan lulusan Perguruan Tinggi merupakan lebih dari seperempat seluruh tenaga kerjanya.

·        Pasar modal yang sudah cukup kuat merupakan seperlima volume transaksi dunia.

·        Pengalaman yang sangat kaya dalam perdagangan global, peng-eksport nomor 14 di dunia.

·        Inisiatif-insiatif Taiwan dalam beberapa hal yang penting antara lain:

ii.       Rencana APROC, untuk menjadikan Taiwan pusat operasi regional Asia Pasifik.

iii.      Rencana NII, membangun infrastruktur informasi nasional; program-program untuk memicu kemajuan teknologi mendorong otomatisasi di pabrik-pabrik yang mencakupi teknologi digital; meningkatkan pelatihan-pelatihan kemahiran dalam software, dll. Meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk memulai KBE.

 

Bagaimana Taiwan Membangun KBE-nya

II.     Percepat komersialisasi penemuan-penemuan baru dan penciptaan pasar-pasar baru dengan membangun mekanisme untuk mendorong innovasi dan pembiakan “venture-venture” baru, memajukan pemanfaatan teknologi IT dan internet.

III.   Tinjau kembali semua aspek-aspek yang relevan tentang prasarana dasar, peraturan-peraturan dan perundang-undangan, supply tenaga kerja (baik ahli, menengah, rendah) serta prosedur-prosedur administrasi pemerintah, selalu menyesuaikan diri secara cermat (dimana perlu) dengan kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang industri yang bersifat: knowledge-intensive”, dan mempersempit kesenjangan digital dalam masyarakat.

 

Strategi Dasar Pembangunan KBE Taiwan

I.        Dirikan mekanisme untuk mendorong innovasi baru dan kembangbiakkan “venture-venture” baru.

II.     Perluas pemakaian teknologi informasi dan internet dalam proses produksi dan dalam kehidupan sehari-hari.

III.   Letakkan dasar bagi suatu lingkungan yang sangat “supportive” terhadap pemanfaatan internet.

IV.  Pikirkan modifikasi terhadap sistem pendidikan dalam usaha memenuhi kebutuhan personal, melalui pendidikan atau mengimport tenaga terampil.

V.     Dirikan pemerintahan yang berorientasi pelayanan!

VI.  Formulasikan langkah mencegah timbulnya masalah-masalah sosial yang timbul karena transformasi ekonomi.

 

Secara skematik beberapa langkah penting diperlihatkan dalam beberapa skema berikut ini.

Gambar 6. Strategi Pengembangan KBE di Taiwan

 

Gambar 7. Cara Taiwan memperluas pemanfaatan IT dan Internet dalam proses Produksi dan dalam kehidupan sehari-hari

Gambar 8. Cara Taiwan lebih mengendalikan pemanfaatan IT dan Internet dalam proses Produksi dan dalam kehidupan sehari-hari

 

Beberapa Indikator Ekonomi Taiwan adalah sebagai berikut:

 

GDP Growth                                                    : 4.6 %

GDP                                                                : US$35 bill. (PPP: US$100 bill.)

Inflation                                                            : 1.4%

Population                                                        : 22.8 mill.

GDP/Capita                                                     : US$17.950 (PPP: US$36.330)

 

Sumber: The Economist, January 2008 (Special Edition)

Untuk tahun-tahun sebelumnya lihat lampiran Taiwan.

 

 

 

 

 


 


 

INDUSTRI KREATIF/CREATIVE INDUSTRIES

 

Salah satu kegiatan yang akan sangat bermanfaat pada saat ini bagi Indonesia adalah menggerakkan industri kreatif. Sebelum pergi lebih dalam mengenai soal ini kita pertanyakan dulu apa yang disebut Industri Kreatif itu.

 

Istilah   industri kreatif mengacu kepada sekelompok sektor-sektor industri yang saling terkait dan sering dianggap sebagai bagian dari ekonomi global yang kini sedang tumbuh pesat. Pada dasarnya Industri Kreatif itu adalah sekelompok industri yang berfokus kepada penciptaan dan eksploitasi produk-produk yang termasuk dalam kelompok produk hak cipta (intellectual property) seperti musik, buku, film, dan ”games”, atau pelayanan kreatif dari bisnis yang satu ke bisnis yang lain seperti periklanan, hubungan publik (public relation) dan pemasaran langsung. Aktivitas ekonomik terfokus kepada desain, membuat atau jual beli benda-benda yang dianggap benda seni seperti merakit rangkaian permata dengan mode tingkat tinggi (haute couture), buku berisikan syair yang bermutu, atau tulisan-tulisan kreatif lainnya. Dengan demikian pembatasannya semakin menjadi kabur sehingga Departemen Kebudayaan, Media dan Olah Raga Inggris (DCMS) mengambil inisiatif membuat suatu definisi serta menggolongkan beberapa produk dan aktifitas yang dapat disebut hasil industri kreatif. Definisi yang dikeluarkan DCMS ternyata banyak dipakai oleh berbagai perusahaan dibanyak negara. Sebaliknya banyak juga kritikan dan perbaikan-perbaikan yang diusulkan.

 

Definisi DCMS Tadi Berbunyi Sebagai Berikut:

“semua industri yang berasal dari kreativitas individual, dari kemahiran seseorang, talenta, dan berpotensi menjadi sesuatu yang berharga dan penciptaan lowongan pekerjaan dengan menghasilkan eksploitasi hak milik (intellectual property)” (those industries which have their origin in the individual creativity, skill and talent and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property).

 

Kini Definisi Tersebut Mencakupi 11 sektor, yakni:

·        Periklanan.

·        Arsitektur.

·        Seni dan Pasar Antik.

·        ”Crafts”( kerajinan tangan).

·        Desain termasuk Communication Design.

·        Perancang Mode.

·        FiIm, Video, dan Fotografi.

·        Perangkat Lunak Komputer (computer software).

·        Musik, Seni yang Dipertunjukkan (the visual and performing arts).

·        Publikasi.

·        Televisi dan Radio.

 

Definisi dan pembagiannya dalam 11 sektor itu dipakai oleh banyak negara. Kini muncul banyak idea untuk penyempurnaan, bukan hanya untuk mengkritik saja melainkan agar definisi dan pengelompokkan tadi menjadi tidak berarti ganda, dan agar menjadi lebih operasional.

 

Banyak pihak berpendapat bahwa pembagian kedalam 11 sektor yang dihasilkan DCMS UK tadi mengaburkan perbedaan antara bisnis dalam bidang gaya hidup (life style), business, kegiatan nirlaba, bisnis besar, dan perbedaan antara mereka yang memperoleh subsidi dari negara dan mereka yang tidak menerima subsidi; dimasukannya perdagangan antik kedalam kategori industri kreatif sering dipertanyakan karena dibidang ini sering melibatkan, atau membuat barang antik tiruan atau palsu. Pelayanan komputer juga sangat sering dipertanyakan (Wikipedia 2008).

 

Yang jelas adalah bahwa pendefinisian DCMS UK itu memunculkan badan internasional dan kelompok-kelompok lain yang mencoba benar-benar mengukur aktivitas kreatif itu seperti LEG (Leading European Group), Biro Statistik Kanada, dan UNESCO. Masalah yang sangat pelik adalah bagaimana agar masyarakat luas dapat menghargai aktivitas kreatif itu dan sekaligus dapat menilainya, seperti: apa yang dihasilkan sebuah perusahaan, dan apa yang dihasilkan oleh seorang individu. Dengan demikian mereka membedakan sekali antara sebuah perusahaan yang menghasilkan piringan hitam atau CD yang seharusnya digolongkan kedalam industri musik, sedangkan seseorang yang ahli memainkan sebuah piano disebut musikus atau pemusik.

 

Kini banyak negara yang mulai menganggap bahwa Industri Kreatif itu sudah dapat dimasukkan ke golongan Perekonomian Berbasiskan Pengetahuan. Dimasa depan idea dan imajinasi seperti yang dikeluarkan oleh DCMS UK akan menjadi asset besar. Pemerintah Inggris memperkirakan bahwa Industri Kreatif di UK (2001) menciptakan lebih dari satu juta kesempatan kerja dan menghasilkan pendapatan sebesar £112.5 milyar (Creative Documentation, 2001).

 

Banyak macam definisi dikeluarkan oleh banyak kelompok dari berbagai negara karena mereka semua beranggapan bahwa sektor ini akan menjadi sangat penting dikemudian hari.

 

Pengelompokan terakhir oleh DCMS (2001) diperluas menjadi 13 sektor seperti tertera berikut ini:

·        Periklanan.

·        Arsitektur.

·        Hasil Seni dan Pasaran Antik.

·        Kerajinan Tangan.

·        Desain (termasuk communication design)

·        Pendesain Mode.

·        Film dan Video.

·        Perangkat Lunak Interaktif Bersifat Santai dan Bersenang senang.

·        Musik.

·        Seni yang Dipertunjukkan.

·        Publikasi

·        Perangkat Lunak Komputer dan Pelayanan Komputer

·        Televisi dan Radio

 

Hal ini pasti akan berkembang terus. Seyogyanya sebuah perguruan tinggi seperti ITB yang mempunyai jurusan desain lebih intensif mempelajari sektor ini dan mempelopori perkembangan industri kreatif ini secara lebih luas lagi di Tanah Air, karena sektor ini sudah dianggap menjadi bagian dari Perekonomian Berbasiskan Pengetahuan. Kerajinan-kerajinan tangan dari Pedalaman Papua, Kalimantan, NTT, NTB. Sulawesi, Sumatra dan Jawa sangat kaya akan corak yang dapat diangkat ke level desain, demikian juga dengan item-item lain, nada-nada dalam musik, dll. Tetapi ini membutuhkan analisis ilmiah, daya kreatif, imajinasi, dan ketajaman intelektual, suatu common effort (usaha bersama) sangat diperlukan dengan memungkinkan kreativitas individu tetap berkembang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

APA YANG DAPAT DAN HARUS DILAKUKAN ITB

 

Institut Teknologi Bandung akan berumur 50 tahun tanggal 2 Maret 2009. Dibandingkan dengan universitas-universitas tua di Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara Asia lainnya, umur 50 tahun memang masih relatif muda. Akan tetapi dilihat dari segala kemungkinan dan kesempatan terbuka dimasa modern ini umur 50 tahun sudah lebih dari cukup untuk berprestasi lebih nyata, lebih terasa dan lebih menggetarkan. Sebagai contoh Nan Yang Technological University di Singapura kini sudah rangking ke 25 dari seluruh universitas dunia, menjalin kerjasama dengan banyak universitas-universitas besar yang ber-prestige tinggi dalam dunia akademik.

 

Dengan lain perkataan “there is no excuse what so ever.” Apa yang disebut tadi tentang Institut Teknologi Bandung berlaku sama bagi Indonesia sebagai bangsa. Republik Indonesia sudah berumur 63 tahun. Kesempatan dan peluang sangat banyak. Indonesia tidak mengalami peperangan sengit seperti Perang Vietnam, Perang Korea, gejolak sosial-politik seperti di China, mulai dari Perang China Komunis melawan China Nasionalis, Revolusi Kebudayaan dan bangkitnya China sebagai negara dengan sistem perekonomian pasar terbuka yang dimulai dengan Reformasi Deng Xiau Ping ditahun 1978. India secara pelan dan evolusioner bergerak menjadi suatu negara adidaya, Korea Selatan bangkit tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang besar, demikian hal nya dengan Taiwan, dan Singapura. Apa yang terlihat di China, India, Korea Selatan, Taiwan dan Singapura?

 

Khusus mengenai perkembangan menuju ke masyarakat berlandaskan KBE, setiap negara mempunyai rencana dan penerapan rencana tersebut lewat program secara nyata, tegas, bertahap, terintegrasi antar satu lembaga dan lembaga yang lain. Sejak tahun 1998 hingga tahun 2008, selama 10 tahun penuh Indonesia sudah mempunyai 4 orang presiden. Setiap rezim itu tidak meninggalkan apapun. Semua yang dilakukan oleh satu rezim seakan-akan tidak berarti apa-apa. Jadi tidak terlihat kontinuitas dari satu rezim ke rezim berikutnya, demikian juga dengan Orde Baru terhadap Orde Lama.

 

Soekarno berhasil mempersatukan bangsa dan menginsyafkan orang Indonesia bahwa mereka itu merupakan satu bangsa dengan suatu negara. He forged a Nation.

 

Soeharto berhasil menjaga keutuhan NKRI, melansir program keluarga berencana yang sangat berhasil, program untuk mengkodifikasikan Pancasila sebagai Filsafah dasar negara, dan setidak-tidaknya berhasil membuat pesawat terbang CN 235, mulai membuat gerbong-gerbong kereta api, dan kapal. Tetapi sesudah itu Indonesia bukan saja berjalan ditempat tetapi secara sosial-ekonomi kita mundur (lihat angka-angka kemiskinan). Ini tidak boleh berjalan terus. Indonesia harus benar-benar bangkit melalui program-program nyata yang membuat kita selangkah demi selangkah maju kedepan menjadi negara modern. Apa yang disebut negara modern? Penulis menyebut negara modern itu sebagai negara dimana bangsanya committed, benar-benar committed untuk membangun Masyarakat Berbasiskan Pengetahuan dan selanjutnya membangun Masyarakat dengan Sistem Perekonomian Berbasiskan Pengetahuan. Mengenai Pembangunan Bangsa secara keseluruhan itu sebaiknya diserahkan kepada yang lebih berkompeten dan yang ditugasi.

 

Bagi masyarakat ITB apa yang dapat disumbangkan kepada bangsa dan negara sesuai kemampuannya. Jawabnya tidak lain ITB sebagai pusat teknologi harus mengajukan konsep pengembangan masyarakat lewat jalur teknologi. Dalam hal ini mungkin lebih tepat konsep tekno-ekonomi, karena masalah IT, ICT, Software dsb. ujung-ujungnya adalah ekonomi.

 

ITB Berinisiatif Mengembangkan Program untuk Merintis Masyarakat Berdasarkan KBE

Yang dapat dilakukan ialah bergerak dengan langkah kecil tetapi bersifat mengajak universitas-universitas lain seperti universitas-universitas di Bandung, Jakarta, Bogor, Yogya, Semarang, dan Surabaya beserta para pengusaha muda metintis penggunaan komputer, IT, ICT, software sebanyak mungkin. Dalam hal ini ITB mempunyai Holding Company, PT Ganesha ITB! Kenapa perusahaan-perusahaan dibawah Holding Company itu yang mempelopori usaha tersebut mungkin tidak semuanya bisa, pilih saja beberapa yang sudah bisa, dan target perusahaan disekitar Bandung dan Perguruan Tinggi sekitar Bandung. Dalam hal ini tentu harus ada kerjasama dengan pihak IT di ITB secara erat.

 

Ikuti standar-standar, kodifikasi, indikator-indikator, knowledge assessment (World Bank), Knowledge Index, Key variables.

 

Pada level nasional ada Majelis Teknologi Informasi dan Komunikasi yang konon diketuai oleh Presiden RI sendiri. Disamping itu masih ada Departemen Komunikasi dan Informatika, dan adalagi Direktorat Jenderal di Dpt. tersebut. Tentu mereka mau diajak kerjasama. Secara berangsur majelis tadi dengan Dpt. bersangkutan dihimbau melansir Program Nasional yang terencana dan terarah untuk membangun masyarakat dengan KBE. Dalam hal ini Bank Dunia, ADB, atau badan internasional lainnya pasti mau membantu. Buat Program 5 tahun. Ini juga dilakukan Korea. Kenapa Indonesia tidak?

 

Memang benar industri IT di Indonesia masih kecil. Sebagai contoh dilukiskan dalam bab IT Industri dan Industri IT di Indonesia. Jasa IT untuk tahun 2008 baru mencapai US$500 juta. Dengan adanya Program Majelis Teknologi Informasi dan Komunikasi hingga tahun 2002 Landskap IT Indonesia akan berubah.

 

Disamping itu jika ITB dan perguruan-perguruan tinggi lain dapat menghembuskan demam IT disertai perkembangan infrastruktur IT keadaan akan berubah.

 

Disamping itu ITB dapat mendorong perkembangan Creative Industry. Tetapi lagi-lagi ITB tidak dapat bergerak sendiri. Keberhasilan ITB terletak pada dapatnya mengajak dan mendorong universitas lain berbuat hal yang sama. Mungkin UI, UGM, Airlangga dan beberapa universitas swasta lain sudah lebih dahulu bergerak. Tidak apa, tidak terlambat untuk bergabung.

 

Di Bandung terdapat lembaga yang bernama Bandung High Tech Valley. Jadikan mereka partner atau ITB yang menjadi partner mereka.

 

Dalam pada itu harus ada program pendidikan khusus IT untuk menuju KBE. Dalam hal ini penulis bukan ahli IT. Di ITB banyak yang ahli dalam hal ini. Jadi lahirkanlah program khusus untuk mencetak ahli sebanyak-banyaknya. Dalam hal ini Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi tentu bersedia membantu atau sudah barangkali.

 

Perlu diingat apa yang dilaporkan Business Monitor yang mengatakan setiap lembaga membangun dalam isolasi dan tidak ada koordinasi dari pusat. Justru ini yang harus didorong oleh ITB dan jika dapat ikut membantu peng-integrasian tersebut melalui networking yang lebih rapih dan diketahui oleh masyarakat.      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RANGKUMAN-KESIMPULAN-DAN REKOMENDASI

 

 

Gambar 9. Skema rangkuman-kesimpulan-rekomendasi/himbauan

 

Rangkuman

1.      Istilah KBE lahir dari pengakuan  sepenuhnya bagi peran pengetahuan dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi menjelang akhir-akhir abad ke -20. Luaran (output) dan pekerjaan (employment) berkembang paling cepat dalam indutri Hi–Tech (elektronika, IT, ICT, komputer software, komputer services, dan aerospace). Di negara-negara OECD diantara 1970-1994 produksi Hi-Tech mencapai 20-25% dari produksi manufatur. Sektor-sektor jasa Hi-Tech seperti pendidikan dan pelatihan-pelatihan, komunikasi dan informasi tumbuh lebih cepat lagi. Diperkirakan bahwa lebih dari 50% dari GDP negara-negara OECD (OECD,GD(96) 102)  berasal dari kegiatan KBE. Dengan demikian semua investasi diarahkan ke produk-produk Hi-Tech dan jasa, khususnya informasi dan komunikasi. Dalam kaitan itu tenaga kerja terlatih  merupakan komoditi yang sangat dicari. Pola yang sama terlihat di China, Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan India (lihat uraian-uraian mengenai negara tersebut di bab-bab mengenai China, India, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan).

2.      Dari uraian-uraian tersebut hal yang sangat mencirikan Sistem KBE dari sistem perekonomian klasik (Adam Smith  2000 dan Keyness, 1936 ) adalah sebagai berikut:

2.1     Di Perekonomian klasik masukan bagi proses produksi adalah bahan mentah (sumberdaya alam)  sedangkan di KBE  masukan lebih berupa pengetahuan, informasi, dan teknologi.

2.2     Di Perekonomian Klasik selalu berlaku “The Law of Diminishing Returns” (David Richardo, 1817), sebaliknya di KBE hukum itu tidak berlaku. Dari sini muncul Teori Baru mengenai Petumbuhan.

2.3     KBE dicirikan oleh keharusan belajar terus menerus dan belajar kembali lewat pendidikan formal atau dari pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh semua perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga terkait dalam KBE.

3.  Kodifkasi Pengetahuan.

Kini dikenal berbagai pengetahuan seperti (i) know-what; (ii) know-why; (iii) know-how; (iv) dan know-who. Khusus tentang know-how and know-who, ini yang disebut pengetahuan membisu, atau tacit knowledge. Yang sangat penting adalah know-who. Dia tumbuh dari pengalaman sosial. Ia semakin menjadi penting dimasa kini dimana orang bekerja dalam suatu jejaringan. Know-who itu menyangkut ”information about who knows what and who knows how to do what“.  Ini menyangkut kemampuan khusus yang dimiliki seseorang yang diperlukan pada suatu keadaan dan waktu yang sangat  khusus pula. Know-who demikian itulah yang diperlukan oleh perusahaan-perusahaan besar pada waktu-waktu tertentu dan kebutuhan sedemikian itu selalu bertambah seperti mencari seorang ahli (expertise) atau ahli dalam bidang tertentu.

4. Revolusi digital bergerak secara cepat dan intensif kearah kodifikasi; mengubah bagian dari “codified knowledge” vs “tacit knowledge” dalam persediaan-persediaan pengetahuan disuatu sistem perekonomian. Semua sumberdaya informasi yang dapat disebarkan kesegala penjuru dunia dalam jejaringan elektronik dalam jumlah yang amat besar, dalam waktu yang sangat singkat dengan harga yang sangat rendah. Hal demikian itulah yang memungkinkan orang menghubungkan semua sumberdaya informasi pihak swasta ataupun pemerintah, referensi digital, buku, jurnal-jurnal, perpustakaan makalah-makalah kerja, citra, video klip, rekaman bunyi, musik, suara biasa, pemaparan grafik, dan surat-surat elektronik, merupakan komponen dari apa yang kita sebut “perpustakaan digital universal” dimasa kini.

 

5.  Jadi KBE itu sangat dicirikan oleh kebutuhan belajar secara terus menerus tanpa hentinya mengenai cara menangani informasi yang terkodifikasikan (codified information) disertai kompetensi  menggunakan informasi tersebut.

 

Akhirnya, perbedaan antara masyarakat KBE dan masyarakat ekonomi klasik merupakan juga batas  pemisah  digital (digital devide) antara bangsa miskin dan bangsa kaya didunia ini.

 

6.  Oleh karena itu sangat imperatif kiranya bagi Indonesia yang merupakan suatu Benua Maritim yang begitu luas dengan penduduk sebanyak 230 juta itu secepatnya membangun masyaraktnya bersistem ekononomi berbasiskan pengetahuan, bahkan sebenarnya sudah harus dilakukan secara terarah, sistematik, terpadu, komprehensif dan secara nasional sekitar 10 tahun yang lalu. Karena dasar kesemuanya itu adalah sains dan teknologi maka lebih dari wajar kiranya jika prakarsa dan pemeloporannya dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung yang dalam waktu dekat akan merayakan  Diesnya yang ke-50. Indonesia harus secepatnya masuk secara mantap kedalam kelompok bangsa-bangsa berpendapatan menengah. Jika tidak maka Indonesia akan mudah jatuh terperosok menjadi negara gagal. Masalah ini merupakan hidup atau mati bagi suatu bangsa, Bangsa Indonesia.                                                          

 

Kesimpulan Umum dan Rekomendasi/Himbauan

 

Kesimpulan Umum

1.      Indonesia harus mengalahkan musuh utamanya terlebih dahulu, yakni musuh yang berada dalam kalbunya. Dari mulai sekarang kita harus sadar dan insyaf musuh kita sebenarnya bukan AS, Inggris, Eropa, Australia, Israel, Russia, China, Malaysia atau Singapura, dll.

Musuh utama kita adalah:

§         Ketidakjujuran.

§         Kemunafikan dan yang menyebabkan korupsi, suap, dan penipuan lain hanya mencari kambing hitam semata.

§         Iri-dengki (tidak senang melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain sengsoro).

§         Sikap “Complacency” (cepat puas diri dan menjadi lengah).

§         Malas, boros, tidak terbiasa menabung, dengan sikap “bagaimana nanti” (kumaha engke).

2.      Indonesia harus membuka diri, bergabung dengan masyarakat dunia serta mengikuti aturan-aturan main yang disepakati. Kita tidak boleh meng-“gerilya” kesepakatan-kesepakatan yang dibuat.

3.      Indonesia harus bertekad menjadi negara modern memanfaatkan sains dan teknologi kontemporer berlandaskan Ethika yang kuat berbasiskan Pengetahuan.

 

Rekomendasi II (a)

1.      Seyogyanya pemerintah mempunyai kebijakan yang tegas, jelas, komprehensif, berikut taktik dan strategi, pentahapan dan skala prioritasnya.

2.      Tetapkan tujuan serta sasaran, apa yang hendak dicapai misalnya:

Tujuannya adalah meletakkan dasar bagi perkembangan Sistem Perekonomian Berbasiskan Pengetahuan.

Sasarannya: meningkatkan pemakaian komputer dan internet oleh X/1000 orang penduduk hingga 2015.

3.      Untuk merealisasikan itu:

Membangun perusahaan joint-venture dengan suatu perusahaan asing untuk memproduksi komputer dengan harga “rendah” untuk dipakai di SD, SMP, SMA, SMK dan Pondok-pondok Pesantren yang tersebar diseluruh Indonesia. Anak-anak sekolah di biasakan bermain dengan internet dan mengambil manfaat dari internet, menyadap pengetahuan sebanyak-banyaknya; secepatnya diajarkan membuat program-program yang sangat sederhana. Ini dilakukan sedini mungkin.

4.      Sambil berjalan, Pemerintah melansir program-program besar, seperti:

e-government

e-commerce

e-education

e-health care

e-mitigation of hazards

 

Dimulai dengan e-gvt dan e-commerce.

Untuk keperluan tersebut Pemerintah perlu mengerahkan lembaga penelitian non departemen seperti LIPPI, BPPT, dan berbagai Perguruan Tinggi baik swasta maupun negeri.

 

Dalam kaitan itu perlu diciptakan suatu joint-venture dengan perusahaan asing pembuat software.

5.      Dalam pada itu dilansir program pendidikan IT, ICT, dan software untuk menghasilkan professionals dalam bidang tersebut disertai pelatihan intensif dan secara besar-besaran untuk membangun laskar terampil dalam bidang teknis IT, ICT, dan juga dalam bidang software.

 

Fase pertama bagi program-program 3, 4, 5 harus rampung dalam 10 tahun

 

6.      Fase ke-2 adalah pembuatan software bagi hal-hal praktis seperti: kedokteran, pertambangan, eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam, serta pembuatan software untuk ilmu-ilmu pengetahuan alam khas Indonesia untuk komersial, dus untuk eksport.

7.      Menjelang 2020 Indonesia sudah mempunyai dasar-dasar yang solid untuk secara bertahap melangkah menuju masyarakat KBE. Dengan demikian diharapkan dasar-dasar yang kokoh sudah tersedia untuk memasuki masyarakat KBE dalam waktu kurang dari 1 (satu) generasi.

 

Rekomendasi II (b)

Sambil program IIa berjalan ITB mengambil prakarsa berikut ini:

Di ITB terdapat Holding Company bernama PT Ganesha ITB yang merupakan gabungan perusahaan yang didirikan dan dimiliki oleh dosen-dosen ITB. PT Ganesha ITB itu secara berkerjasama dengan jurusan/prody ITB terkait mengajak universitas disekitar bandung (Unpad, Unpar, Unpas, Unjani, Maranatha, UPI, Un. Nurtanio, dll. dimana ada perusahaan-perusahaan seperti yang tergabung di PT Ganesha ITB itu bergabung dalam satu kelompok (group) memulai usaha memanfaatkan IT dan ICT sebanyak mungkin, dan menerapkan ketentuan-ketentuan sebagaimana dijelaskan dalam Bab Sistem Ekonomi Berbasiskan Pengetahuan. Mungkin tidak semua universitas diwilayah Bandung siap keadaannya, tetapi dimulai dengan yang sudah siap saja dulu. Sebaliknya adalah kewajiban ITB menghimbau universitas-universitas lain untuk berbuat yang sama seperti UI, Trisakti, Atmajaya, Guna Dharma, Universitas Pelita Harapan, dll. Demikian juga di Semarang, Surabaya, Yogya, Medan, Padang, Makassar, Denpasar, Manado, dsb. Jika dikerahkan secara sistematik dan terarah tentu akan memberikan hasil. Tadi disebutkan “secara sistematik dan terarah”, ini berarti harus bekerjasama dengan Dpt. Komunikasi dan Informatika.

 

Yang terpenting memicu pendidikan dan program-program pelatihan yang banyak dan intensif dalam bidang IT, ICT, dan dalam bidang software. ITB dan universitas-universitas lain tadi tentu dapat juga membantu dalam pendidikan serta pelatihan dalam e-gvt, e-commerce, e-health care, e-education, dan e-mitigation of hazards. Untuk detailnya para Guru Besar dan dosen-dosen dari IT di ITB secara teknis tentu jauh lebih memahami.

 

Khusus untuk mematangkan bidang yang dimaksud diatas alangkah baiknya jika Forum Rektor dihimbau untuk ikut memicu program tersebut dengan menyebar luaskan idea itu agar lahir suatu program nasional yang akhirnya menjadi suatu gerakan berlanjut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EPILOG

 

Destiny is not a matter of chance

It is a matter of choice

It is not something to be waited for

It is something to be achieved

If you think you can’t … you can’t …

If you think you can … you can …

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

1.      Bell, Daniel, 1973. The Coming of the Post_Industrial Society: a Venture on Social Forecasting. Basic Books, New York

2.      Business Monitor International, 2008. Indonesia: IT Industri. www.businessmonitor.com

3.      Chia Show Yue. Singapore: Towards a Knowledge-Based Economy. www.tcf.or.jp

4.      China Page, 2008. One Hundred Bridges Across Yang Tze River by 2020. www.Chinapage.com/bridge/yangzibridge.html

5.      Chomsky, Noam, 2006. Failed States. Wikipedia

6.      Council for Economic Planning and Development in Taiwan, 2001. Plan to Develop Knowledge-Based Economy. www.cepd.gov.tw

7.      Drucker, Peter, 1969. The Age of Discontinuity: Guideline to Our Changing Society. Harper & Row, New York

8.      Dutta, M., 2004. China’s Industrial Revolution: Chalenges for a Macroeconomic Agenda. Intern. Conf. Beijing Forum at Beijing University

9.      Ghali, Boutros Boutros, 1999. Op. Cit. Thürer. www.sourcewatch.org

10.  Hansen, Alvin H, 1953. A Guide to Keynes. McGraw_Hill Kogakusha Ltd, Tokyo

11.  Jung Chang and Jon Haliday, 2006. The Unknown Story of MAO. Anchor Books (Random House Inc.) New York

12.  Keyness, J. M., 1936. The General Theory of Employment. Interest and Money. MacMillan Co, London

13.  Kompas, 2008. 52.1 juta Pekerja Indonesia Miskin. Harian Kompas Edisi 21 Agustus 2008, Jakarta

14.  Lane, Robert E., 1966. The Decline of Politics and Ideology in a Knowledge Society. American Sociological Review 31

15.  Long, Geoff, and Onno W. Purbo, 2008. Indonesia: Information Technology Activities. Geoff Long ( ). Onno W. Purbo ( ), www.bogor.net

16.  Mahbubani, Kishore, 2008. The New Asian Hemisphere. Public Affairs, New York

17.  Meredith, Rubyn, 2007. The Elephant and the Dragon. WW Norton & Company Ltd. New York

18.  OECD, 1996. The Knowledge-Based Economy. OECD Report/GD (96) 102, Paris

19.  Pandey, Abishek, Alok Aggarwal, Richard Devane, Yevgeby Kuznetsov, 2004. India’s Transformation to Knowledge-Based Economy-Evolving Role of the Indian Diaspora. Evalueserve

20.  Radosevic, Slavo, 2007. Knowledge Based Economy Indicators.

21.  Raharjo Budi, and Bana G. Kartasasmita, 2000. Information Technology and Telecommunication Issues in Indonesia. www.cert.or.id

22.  Ricardo, David, 1817. On the Principles of Political Economy and Taxation (Law of the Diminishing Returns), Prentice-Hall, ISBN 0-13-961905-4 

23.  Shi-Ji Gao, 2005. China’s Transformation into a Knowledge Based Economy. WBI Global Innovation Policy Dialogue April 2005. WBI K4D Dialogue

24.  Shenkar, Oded, 2006. The China Century. Wharton School Publishing

25.  Singh, Shri, 2007. University Education in India: Can the collapse be reversed? Current Science Vol. 92, No.5

26.  Smil, Vaclav, 2004. China’s Past, China’s Future. Routledge, New York

27.  Smith, Adam, 2000. The Wealth of Nations. The Modern Library. Paperback Edition, New York

28.  Stehr, Nico, 1994. Knowledge Societies. Sage Publications, London

29.  Sugito Suwito, 1998. Exploiting New Information Technology in Indonesia Census Operations. 18th Population Census Conference Program on Population, East-West Center Honolulu, Hawaii USA

30.  Thürer, Daniel, 1999. Failing States. Intern. Review of the Red Cross

31.  Veloso, Francisco, AJJ Botelho, Ted Tschiang, Alice Amsden, 2003. Slicing the Knowledge-Based Economy in Brazil, China and India (A Tale of 3 Software Industries). Report,

32.  World Bank, 2000. Republik of Korea Transition to a Knowledge-Based Economy. Document of the World Bank No. 20346-Ko, http://web.worldbank.org

33.  Zen, M. T., dan Moedomo, 2005. Kematian dan Resureksi Sang Dinosaurus (in Search of Excellence). MGB-ITB.

34.  Zen, M. T., 2005. Membangun Bangsa di Benua Maritim Indonesia (Forging a Nation in the Maritime Continent of Indonesia. MGB-ITB.

35.  Zen, M. T., 2005. Pemberontak Intellektual. Newsletter ITB.

36.  Zen, M. T., 2005. Prasyarat Kemajuan di BMI. Sarasehan 60 tahun Kemerdekaan Indonesia, Yogya.